Sabtu, 31 Januari 2015

POSITIVISTIK: MANUSIA BUKAN BEBATUAN

Oleh: Moh. Faisol
e-mail: faishal_114@yahoo.com
*Artikel Kuliah S2 Akuntansi Multiparadigma

Abstrack
Pembahasan positivistik suatu hal yang menarik manakalah dikaji dalam disiplin ilmu sosial yang tidak lurus seperti ilmu alam. Positivistik dari sisi ontologi dan epistimologi sebagai paradigma yang membelenggu kodrat manusia ibarat sebuah batuan yang pasif, padahal manusia adalah mahluk yang berpikir, bertindak, dan memilih.
Kata kunci: Positivistik, Manusia, dan Bebatuan   


A.    Pendahuluan
Paradigma positivisme sering disebut dengan structural fungsionary atau dengan istilah lain aliran mainstream (arus utama) menggunakan metodologi yang biasa digunakan dalam ilmu alam untuk menganalisis fenomena sosial. Dan tidak salah jika positivism menempatkan ilmu sosial, sebagai ilmu alam sehingga kalau kita lihat hampir semua buku ajar khususnya untuk mata kuliah bisnis dan akuntansi yang digunakan di pendidikan tinggi di Indonesia sebenarnya secara jelas merupakan penganut aliran ini (Indriantoro, 1999).
Positivism menempatkan ilmu sosial sebagai ilmu alam yaitu sebagai metode yang terorganisir yang mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan empiris guna secara probabilistik menemukan atau memperoleh konfirmasi tentang hukum dan sosial, sedangkan paradigma positivistik lebih mengacu pada penelitian yang dilakukan pada ilmu alam (natural science). Walaupun demikian pendekatan paradigma positivistik menuntut ilmu sosial taat akan postat yang ada dalam ilmu alam yang melibatkan logika fikir, dimana hal ini mengakibatkan keterbatasan ‘eksplorasi’ atas pengetahuan ilmiah. Fenomena ini yang menyamakan manusia dengan benda, padahal manusia adalah makhluk yang bertindak, berpikir, menilai dan memilih.
Artikel ini membahas seputar paradigma positivistik dalam konteks teoritis, prinsip-prinsip aliran positivistik, dan positivistik dalam ilmu sosial. Bentuk kritik terhadap positivistik dari sudutpadang ilmu filsafat yaitu ontologi (ilmu yang membedakan hakikat ilmu) dan epistimologi (proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan) sebagai bagian penutup.

B.     Apa Positivistik?
Positivistik berasal dari kata “positif” yang artinya faktual, sesuatu yang berdasar fakta atau kenyataan, menurut positivism, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta yang ada, sehingga dalam bidang pengetahuan, ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Lantas kemudian positivisme adalah istilah umum dalam filsafat yang mengutamakan aspek faktual pengetahuan khususnya ilmiah (Hakim & Saebani, 2008).
Pendekatan positivistik mengandalkan kemampuan pengamatan secara langsung (empiris) penalaran yang digunakan induktif. Ilmu pengetahuan juga filsafat yang menyelidiki fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.Model pendekatan positivistik terilhami dari gerakan keilmuan masa modern, yang mengharuskan adanya kepastian dalam suatu kebenaran. Syarat objek ilmu yaitu dapat: diamati (observable), diulang-ulang (repeatable), diukur (measurable), diuji (testable), diramalkan (predicable). Dan penelitiannya berpusat pada eksperimen data-data particular, dan ditafsirkan oleh rasio, dan pengalaman (Suhasti, 2012).
Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi (Wibowo, 2008).
Berbeda dengan positivisme kontemporer berasal dari para penganut positivistik logic sebagai kelompok yang banyak ditemukan di Wina pada antara masa perang dunia pertama dan kedua. Ada dua doktrin sebagai dasar logika positivisme. Pertama, ilmu pengetahuan murni (orisinal), yaitu ilmu-ilmu eksak (sains) atau logika matematis. Semua klaim kebenaran atau ilmu pengetahuan yang berasal dari ilmu-ilmu metafisika seperti teologi, dipandang tidak lebih dari sebuah pernyataan (statement) tentang keyakinan dan tidak bisa diuji atau diverifikasi dalam kenyataan (empiris). Kedua, semua jenis ilmu sains didasarkan atas metode yang jelas, dan dilakukan dengan proses penelitian, generalisasi hubungan satu fakta dengan lainnya, formulasi teori untuk menjelaskan generalisasi dan mengujicoba generalisasi dan teori-teori yang digunakan itu secara empiris (Kneller, 1984).
Auguste Comte sebagaimana dikutip oleh Hardiman (1990), menjelaskan istilah positif itu dengan membuat beberapa perbedaan, yaitu: antara yang nyata (reel) dan yang khayal (chemerique), yang pasti (certitude) dan yang meragukan (indecision), yang tepat (precis) dan yang kabur (vague), yang berguna (utile) dan yang sia-sia (oiseoux), serta yang mengklaim memiliki kesahihan relatif (relative) dan yang mengklaim memiliki kesahihan mutlak (absolut). Demikianlah semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa kepastian (sense of certainty) pengamatan sistematis yang terjamin secara intersubyektif (the reel).
Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1.    Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer;
2.    Munculnya tahap kedua dalam positivisme (empirio-positivisme) berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu cirri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subjektivisme; dan
3.    Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O. Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain (Wibowo, 2008).

C.    Prinsip Aliran Positivistik
Sebenarnya pertentangan antara idealis versus materialis, metafisis versus positivis, ontologis versus empiris, telah berlangsung cukup lama. Artinya kemunculan positivisme ini mengiringi kemunculan filsafat. Positivisme sama tuanya dengan filsafat. Meskipun demikian, positivisme baru berkembang pesat pada abad ke-19 ketika empirisme mendominasi pemikiran. Positivisme lahir dan berkembang di bawah naungan empirisme (Ash-Shadr, 1991), artinya antara empirisme dan positivisme tidak dapat dipisahkan. Pesatnya perkembangan positivismen terjadi setelah menangnya gerakan sekularisasi, yang berupaya memisahkan secara tegas antara urusan politik (negara) dengan urusan Gereja (agama), dan bersamaan dengan runtuhnya kewibawaan gereja, yang menawarkan basis pemikiran transendental.
Oleh karena itu, wajar jika positivisme menolak secara tegas hal-hal yang bersifat transenden, karena mereka tidak lagi percaya kepada doktrin Gereja. Sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh B.M. Oliver sebagai berikut:
Tibalah saatnya bahwa setelah berhasil menghancurkan basis religius untuk kesusilaan, maka sains berkewajiban untuk memberikan sebuah basis rasional baru untuk tingkah laku manusia, sebuah kode etik yang berkenaan dengan kepentingan-kepentingan manusia di atas dunia, bukan kepentingan-kepentingan manusia di akhirat”.
Pernyataan tersebut di atas adalah merupakan ungkapan yang mempertegas, bahwa empirisme-positivisme mengabaikan masalah moralitas transendental.
Secara epistimologis, empirisme dan positivisme mendalilkan, bahwa panca indera adalah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan. Konsep-konsep yang tidak terjangkau oleh penginderaan tidak dapat diterima. Pola pemikiran demikian, secara historis, bisa dilacak sampai kepada pemikiran Aristoteles, ketika ia menyatakan, bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, ibarat sebuah kertas putih (ingat teori tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman, atau seperti apa yang dikatakan Locke, tokoh empirisme, “There is nothing in the mind except what was first in the senses” tidak ada apa-apa dalam pikiran/jiwa kecuali harus lebih dulu lewat indera. Selanjutnya, dengan sombong Watson, salah seorang pendukung empirisme, berkata:
Give me a dozen healthy infants, wellformed, and my own specified world to bring them up in and I’ll guarantee to take anyone at random and train him to become any type of specialist I might select; doctor, lawyer, artist, merchant, chief and yes, even beggarmen and thief. Regardless of his talent, penchants, tendencies, abilities, vocations, and race of his ancestors (Watson, 1934).
Hanya pengalamanlah yang dapat menentukan pemikiran seseorang, dan bukan faktor-faktor internal seperti bakat, kecenderungan, kemampuan, ataupun hereditas yang dibawa secara fitri. Aliran positivisme memandang, bahwa pengalaman sebagai dasar bagi metode ilmiah. Oleh karena itu, hal-hal internal yang tidak dapat dijangkau secara akal atau berada diluar akal, tidak menjadi perhatian kaum positivis.
Para positivis menentang ilmu metafisika, yang ghaib, apa yang berada di luar batas pengalaman manusia. Mereka menganggap metafisika sebagai tidak ada artinya bagi ilmu pengetahuan, sebab metafisika menarik diri dari tiap usaha untuk verifikasi, kebenaran atau ketidakbenaran pendirian yang tidak dapat ditetapkan (Alga & Duyvendijk, 1983). Oleh karena itu, para positivis telah mengucapkan selamat tinggal pada “dunia dewa” dan “dunia hakekat”, karena dianggap tidak rasional. Pada tahap ini aliran positivisme telah “membuang” filsafat. Wilayah metafisika dan hakikat menjadi obyek pemikiran filsafat melalui kontemplasi-spekulasi, yang tidak dapat didekati dengan indera-indera kaum positivis. Oleh karena itu sebagai akibatnya positivisme hanya bersandar pada prinsip-prinsip berikut ini:
1.      Hanya apa yang tampil dalam pengalaman dapat disebut benar. Prinsip ini diambil dari filsafat empirisme Locke dan Hume.
2.      Hanya apa yang sungguh-sungguh dapat dipastikan sebagai kenyataan dapat dipastikan sebagai kenyataan dapat disebut benar. Itu berarti tidak semua pengalaman dapat disebut benar, tetapi hanya pengalaman yang mendapati kenyataan.
3.      Hanya melalui ilmu-ilmu pengetahuan dapat ditentukan apakah sesuatu yang dialami merupakan sungguh-sungguh suatu kenyataan (Alga & Duyvendijk, 1983).
Oleh karena itu, semua kebenaran didapati melalui ilmu-ilmu pengetahuan, maka tugas filsafat tidak lain dari pada mengumpulkan dan mengatur hasil penyelidikan ilmu-ilmu pengetahuan (Bagir, 1985). Secara lebih lengkap, prinsip-prinsip aliran positivisme dikemukakan oleh Sidharta (1994), sebagai berikut:
1.      Hanya ilmu yang dapat memberikan pengetahuan yang syah.
2.      Hanya fakta yang dapat menjadi obyek pengetahuan.
3.      Metode filsafat tidak berbeda dari metode ilmu.
4.      Tugas filsafat adalah menemukan asas umum yang berlaku bagi semua ilmu dan menggunakan asas-asas ini sebagai pedoman bagi perilaku manusia dan menjadi landasan bagi organisasi sosial.
5.      Semua interpretasi tentang dunia harus didasarkan semata-mata atas pengalaman (empiris-verifikatif).
6.      Bertitik tolak pada ilmu-ilmu alam.
7.      Berusaha memperoleh suatu pandangan tunggal tentang dunia fenomena, baik dunia fisik maupun dunia manusia, melalui aplikasi metode-metode dan perluasan jangkauan hasil-hasil ilmu alam.
Prinsip-prinsip aliran positivisme ini selanjutnya mendasarinya kepada sains modern (sekuler) yang dikembangkan Barat. Sains modern bersandar pada empat premis, yakni:
a.    Dunia itu ada.
b.   Manusia dapat mengetahui dunia.
c.    Manusia mengetahui dunia melalui panca indera, dan
d.   Fenomena-fenomena di dunia terkait secara kausalitas (sebab akibat). Secara metodologis, positivisme meyakini sepenuhnya pada empat dalil ‘keilmuan’, orde, determinisme, parsimoni, dan empirikal.
Alam semesta memiliki tata aturan tertentu. Peristiwa-peristiwa di dunia ini mengikuti urutan yang teratur (orde). Setiap peristiwa yang terjadi pasti mempunyai sebab, determinan, atau anteseden (pendahuluan) yang dapat diamati (determinan). Berbagai Fenomena, kejadian, atau peristiwa dapat dijelaskan secara sederhana (parsimoni). Fenomena-fenomena dapat diobersvasi dan dieksperimen (Rahmat, 1985).
Penerapan empat kaidah metodologi positivisme ini akan menghasilkan fakta-fakta yang diperoleh dari external reality. Dalam hal ini, Herman Soewardi mempertanyakan apakah external reality yang diungkapkan oleh manusia itu exist independently from the mind atau external reality is created by the mind. Menurutnya, masalah ini sulit diselesaikan, mana yang sebenarnya (Soewardi, 1998). Pertanyaan ini pula yang telah melahirkan beberapa aliran yang berbeda, ketika menjawab dari mana munculnya ilmu. Aliran romantis menganggap bahwa teori/ilmu lahir dari proses kreativitas yang dimulai dengan imajinasi dan ditopang intuisi, contohnya, Denis Gabor, pemenang hadiah Nobel Fisika, menemukan teori holografi ketika menonton tenis, dan Friederich Kukule menemukan bagaimana atom-atom karbon terikat pada molekul benzin dalam mimpi.
Aliran Rasional memandang proses ilmu dimulai dari data. Kumpulkan sejumlah data, cari hubungan-hubungan, dan disimpulkan dalam bentuk teori. Sedangkan aliran hipotetiko-deduktif menggabungkan dua aliran ini. Menurut aliran ini, ilmu dimulai dengan serangkaian aksioma yang berasal dari berbagai sumber, kemudian dibuat konsep yang dapat diamati. Oleh karena itu, teori berfungsi sebagai peta yang mengorganisasikan fenomena menjadi kelas-kelas yang dapat dikenal, lalu dicari hubungan antara hukum-hukum teoretis (Rahmat, 1985). Dalam kaitan ini, positivisme merujuk kepada aliran rasional, karena positivisme memformulasikan teorinya dari fakta-fakta yang telah diperoleh melalui observasi dan eksperimen.
Dengan demikian, fakta-fakta yang diperoleh dari external world akhirnya akan diolah oleh pemikiran manusia, External reality don’t mean, but people mean; fakta-fakta/realitas tidak bermakna, oranglah yang memberi makna. Pemaknaan seseorang pada fakta-fakta akan dipengaruhi oleh frame of reference tertentu. Kaum positivis memberi makna pada realitas sesuai dengan kerangka rujukan mereka, yang menyimpan premis-premis seperti tersebut di atas.
Perbedaan perspektif dan kerangka rujukan manusia akan membedakan hasil akhir dari pengamatan. Sehingga sangat mungkin terjadi pengamatan terhadap satu obyek akan melahirkan pemaknaan yang ambigu atau bermakna ganda. Di samping itu pemikiran manusia juga dipengaruhi oleh faktor budaya, latar belakang pendidikan, situasi emosional, dan lain-lain, yang pada akhirnya akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pada obyek yang sama.
Dari sejumlah keterangan tersebut di atas, nampak bahwa implikasi negatif dari ilmu pengetahuan adalah munculnya anggapan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat netral atau bebas nilai. Karena ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada dunia yang dapat dicermati oleh panca indera, dengan sendirinya menolak nilai-nilai yang bersifat transendental seperti moralitas, etika, dan nilai-nilai religius serta hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Netralitas ilmu dikemukakan secara tegas oleh P.W. Bridgaman berikut ini:
Sebab kalau secara pribadi aku harus berupaya agar temuan-temuanku digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja, tentu aku harus menghabiskan kehidupanku dengan mondar-mandir di antara biro ramal untuk mengetahui penggunaan temuan-temuanku, dan melakukan lobbying di Washington untuk memperoleh perundang-undangan tertentu guna mengontrol penggunaan-penggunaan tersebut. Aku tak mampu melakukan kedua hal itu, sehingga kehidupanku akan gagal dan produktivitas ilmiahku berhenti.
Berbagai kritik terhadap anggapan bahwa ilmu pengetahuan ini bebas nilai telah banyak dilakukan orang, dan tidak pada tempatnya untuk dikemukakan semuanya disini, cukuplah disebutkan bahwa setiap tahap proses pencarian ilmu sejak pemilihan masalah ilmiah, penelitian ilmiah, keputusan ilmiah, sampai dengan penerapan ilmu semuanya melibatkan pertimbangan nilai.
Ketika ilmuwan akan melakukan penelitian ia harus memutuskan, bahwa penelitian itu penting; buat dirinya, buat negaranya, atau buat manusia secara keseluruhan. Walaupun demikian, bolehkah penelitian dilanjutkan, meskipun merugikan kehidupan umat manusia saat ini, tetapi menguntungkan manusia yang akan datang? Apakah uji coba senjata, hasil dari pemikiran manusia terus dilakukan meskipun merusak lingkungan? Semuanya ini membutuhkan pertimbangan nilai, yang tidak dapat dicerna melalui panca indera.
Dengan demikian, anggapan ilmu itu bebas nilai tidak dapat dipertahankan lagi. Dan pada akhirnya ilmu pengetahuan yang hanya mengandalkan hasil dari tangkapan panca indera hukum saja tidak akurat, karena keterbatasan panca indera, tetapi juga pengetahuan tersebut lebih banyak membawa mudarat bagi manusia, karena mengabaikan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan manusia. Sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh pengamatan panca indera manusia.

D.    Positivisme dalam Ilmu Sosial
Ilmu sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Berbeda dengan ilmu alam yang objek penelitiannya adalah tentang benda-benda alam, dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, yang dimana sifat hukum itu berlaku dimanapun dan kapanpun.
Paham positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat diruntutkan asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Auguste Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam. Maka dari itu karena adanya sedikit perbedaan, dan itupun perbedaan tersebut masih diragukan, membuat paham positivisme menyatukan ilmu-ilmu dalam aturan-aturan yang sama. Aturan-atura tersebut dikembangkan oleh ilmu alam, karena ilmu alam mengikuti alur hukum alam tanpa ada alur pemikiran manusia. Sehingga illmu sosial mengikuti aturan-aturan ilmu alam yang dijadikan sebagai aturan-aturan umum dari kedua ilmu yang meliputi; objektivitas, metodis, sistematis dan universal.
Sementara Burrell dan Morgan (1979) berpendapat bahwa ilmu sosial dapat dikonseptualisasikan dengan empat asumsi yang berhubungan dengan ontologi, epistemologi, sifat manusia (human nature), dan metodologi.
Pertama, ontologi. Ontologi adalah asumsi yang penting tentang inti dari fenomena dalam penelitian. Pertanyaan dasar tentang ontologi menekankan pada apakah “realita” yang diteliti objektif ataukah “realita” adalah produk kognitif individu. Debat tentang ontologi oleh karena itu dibedakan antara realisme (yang menganggap bahwa dunia sosial ada secara independen dari apresiasi individu) dan nominalisme (yang menganggap bahwa dunia sosial yang berada di luar kognitif individu berasal dari sekedar nama, konsep dan label yang digunakan untuk menyusun realita).
Kedua, epistemologi. Epistemologi adalah asumsi tentang landasan ilmu pengetahuan (grounds of knowledge) tentang bagaimana seseorang memulai memahami dunia dan mengkomunikasikannya sebagai pengetahuan kepada orang lain. Bentuk pengetahuan apa yang bisa diperoleh? Bagaimana seseorang dapat membedakan apa yang disebut “benar” dan apa yang disebut “salah”? Apakah sifat ilmu pengetahuan? Pertanyaan dasar tentang epistemologi menekankan pada apakah mungkin untuk mengidentifikasikan dan mengkomunikasikan pengetahuan sebagai sesuatu yang keras, nyata dan berwujud (sehingga pengetahuan dapat dicapai) atau apakah pengetahuan itu lebih lunak, lebih subjektif, berdasarkan pengalaman dan wawasan dari sifat seseorang yang unik dan penting sehingga pengetahuan adalah sesuatu yang harus dialami secara pribadi (Chariri, 2009).
Debat tentang epistemologi oleh karena itu dibedakan antara positivisme (yang berusaha untuk menjelaskan dan memprediksi apa yang akan terjadi pada dunia sosial dengan mencari kebiasaan dan hubungan kausal antara elemen-elemen pokoknya) dan antipositivisme (yang menentang pencarian hukum atau kebiasaan pokok dalam urusan dunia sosial yang berpendapat bahwa dunia sosial hanya dapat dipahami dari sudut pandang individu yang secara langsung terlibat dalam aktifitas yang diteliti).
Sifat manusia (human nature), adalah asumsi-asumsi tentang hubungan antar manusia dan lingkungannya. Pertanyaan dasar tentang sifat manusia menekankan kepada apakah manusia dan pengalamannya adalah produk dari lingkungan mereka, secara mekanis/determinis responsif terhadap situasi yang ditemui di dunia eksternal mereka, atau apakah manusia dapat dipandang sebagai pencipta dari lingkungan mereka.
Perdebatan tentang sifat manusia oleh karena itu dibedakan antara determinisme (yang menganggap bahwa manusia dan aktivitas mereka ditentukan oleh situasi atau lingkungan dimana mereka menetap) dan voluntarisme (yang menganggap bahwa manusia autonomous dan free willed).
Metodologi, adalah asumsi-asumsi tentang bagaimana seseorang berusaha untuk menyelidiki dan mendapat “pengetahuan” tentang dunia sosial. Pertanyaan dasar tentang metodologi menekankan kepada apakah dunia sosial itu keras, nyata, kenyataan objektif-berada di luar individu ataukah lebih lunak, kenyataan personal-berada di dalam individu. Selanjutnya ilmuwan mencoba berkonsentrasi pada pencarian penjelasan dan pemahaman tentang apa yang unik/khusus dari seseorang dibandingkan dengan yang umum atau universal yaitu cara dimana seseorang menciptakan, memodifikasi, dan menginterpretasikan dunia dengan cara yang mereka temukan sendiri.
Model
Dimensi Subjektif Objektif Dalam Ilmu Sosial


Nominalisme
Ontologi
Realisme


Epistemologi





Antipositivisme
Positivisme


Human Nature





Voluntarisme
Determinisme


Metodologi





Idiografis
Nomotetis






         Subjektifisme                                                                       Objektifisme
   Sumber: Burrell & Morgan (1979)


E.     Kritik Terhadap Positivistik
Ibarat sebuah perjalanan terdapat lika-liku, mulus dan terjal. Begitupun dengan pemikiran positivistik banyak terdapat kritik dari berbagai kalangan yang memandang akan terbatasan pengetahuan ilmiah dengan pendekatan ini (positivistik). Berikut ini akan dibahas kritik terhadap positifistik dari sisi ontologi dan epistimologi.
1.      Ontologi
Ontologi adalah bagian dari filsafat ilmu yang membahas pandangan terhadap hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah. Materialistik mekanistik sebagai perintis aliran ini, yang mengemukaan bahwa hukum-hukum mekanik itu inheren dalam benda itu sendiri, dengan kata lain ilmu dapat menyajikan gambar dunia secara lebih meyakinkan didasarkan pada penelitian empirik daripada spekulasi philosofik. Realitas yang real dalam faham ini diatur oleh kaidah-kaidah tertentu (biasa disebut scientific method) yang universal dan kebenaran sesuatu hanya akan dicapai dengan asas probabilistik (Wahidahwati, 2007). Scientific method adalah pendekatan yang dianut oleh positivisme menyatakan bahwa ontologik realitas dapat dipecah-pecah, dapat dipelajari independen, dieleminasikan dari obyek yang lain dan dapat dikontrol. Oleh karena itu salah satu konsekwensi mendasar dalam metodologi penelitiannya adalah kerangka teori dirumuskan se spesifik mungkin dan menolak ulasan yang meluas yang tidak langsung relevan. Sumber teori diatas harus memenuhi dua kriteria yaitu, (a) Sesuai dengan situasi empiris, (b) Melakukan fungsi teori, yaitu meramalkan, menerangkan dan menafsirkan.
Dari penjelasan diatas jelas bahwa, secara ontologi, positivisme lemah dalam hal membangun konsep teoritik, dengan kata lain bahwa konseptualisasi teoritik ilmu menjadi tidak jelas, atau dapat dikatakan tidak ada urunan dalam membangun teori, sehingga ilmu-ilmu yang dikembangkan menjadi semakin miskin konseptual teoritiknya atau tidak ada teori-teori lain yang mendasar muncul.

2.      Epistimologi
Epistemologi adalah faham filsafat yang membahas secara mendalam segenap proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan yaitu mengenai asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan. Burrel dan Morgan (1979) menyatakan bahwa cara pandang fungsionalist Paradigm banyak dipengaruhi oleh physical realism yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang obyektif, berdiri secara independen di luar diri manusia. Dengan kata lain Paradigma positivisme adalah dualis (objectivis) yaitu ada realitas objektif sebagai suatu realitas yang eksternal diluar penelitian. Peneliti harus sejauh mungkin membuat jarak dengan objek penelitiannya (Triyuwono, 2000). Anggapan ini berarti manusia dianggap pasif, artinya positivism paradigm meniadakan manusia aktif yang sebenarnya dapat mengkontruksi kehidupan. Selain itu positive menggunakan pendekatan deduktive dalam membuat kesimpulan. Pendekatan deduktif merupakan proses berpikir dengan metode rasional untuk mendapat kebenaran guna menarik kesimpulan yang bersifat individu dari yang bersifat umum, ini terlihat jelas pada proses pembentukan hipotesis, dimana hipotesis diturunkan dari teori-teori atau hasil hasil penelitian terdahulu. Lebih jauh dikatakan bahwa tujuan penelitian yang berlandaskan positivisme adalah menyusun bangunan ilmu nomothetik, yaitu ilmu yang berupaya mem-buat hukum dari generalisasinya. Pandangan ini menyatakan bahwa hypothetico-deductive account dari eksplanasi ilmiah, dan metode kuantitatif pengumpulan data dan analisis untuk mengeneralisasi teori diakui sebagai cara yang baku (Triyuwono, 2000). Ini berarti bahwa paradigma positivisme mengarahkan individu atau organisasi tidak secara holistic, karena mengisolasi individu dan organisasi ke dalam variable atau hipotesis dan tidak memandangnya sebagai kesatuan yang utuh.

F.     Kesimpulan
 Pembahasan tentang positivistik diatas data memberikan beberapa kesimpulan berikut:
1.      Paradigma positivistik dalam ilmu sosial memaksa mengikuti kaidah-kaidah ilmu alam.
2.      Sisi epistimologi paradigma positivistik tidak memanusiakan manusia.
3.      Mixed Method solusi terbaik dalam kajian ilmu sosial.


Daftar Referensi:

Algra, N.E, & Duyvendijk, K. Van. 1983. Mula Hukum Beberapa Bab Mengenai Hukum dan Ilmu untuk Pendidikan Hukum dalam Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Bina Cipta
Ash-Shadr, Muhammad B, 1991. Falsafatuna. Bandung: Mizan
Bagir, Manan. 1985. Peranan Hukum Administrasi Negara dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Makalah pada Penataran Nasional Hukum Administrasi Negara. Ujung Pandang: FH-UNHAS.
Burrell, G & Morgan, G. 1979. Sociological Paradigms and Organisational Analysis: Elements of the Sociology of Corporate Life. London: Heinemann Educational Books
Chariri, A. 2009. “Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif”, Paper disajikan pada Workshop Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Laboratorium Pengembangan Akuntansi (LPA), Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang, 31 Juli – 1 Agustus 2009
Hakim, Atang A. & Saebani, Beni. 2008. Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia
Hardiman, F. Budi. 1990. Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta: Kanisius
Indriantoro. 1999. Aliran-aliran Pemikiran Alternatif dalam Akuntansi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol 14 No 3.
Kneller, George F. 1984. Movements of Thought in Modern Education. United State: John Wiley & Sons, Inc.
Rahmat, Jalaludin. 1985. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Rosda Karya
Sidharta, Arief. 1994. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. Bandung: Remaja Rosda Karya, halaman 50
Soewardi, Herman. 1998. Nalar Kontemplasi dan Realita. Bandung: UNPAD
Suhasti, Erni. 2012. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Prajnya Media
Triyuwono. 2000. Paradigma Ilmu Pengetahuan & Teknologi: Short Course Metodologi Penelitian Alternatif. Malang: FE-Universitas Brawijaya.
Wahidahwati. 2007. Kritik Terhadap Paradigma Positivisme dan Hubungannya dengan Konsep Agama. Jurnal Akuntansi, Manajemen Bisnis dan Sektor Publik (JAMBSP, ISSN:  1829 – 9857); Vol. 3 No. 2 Februari 2007
Watson, J.B. 1934. Psycological Care of Infant and Child. New York: Norton

Wibowo, Arif. 2008. Positivisme dan Perkembangannya. http://staff.blog.ui.edu/arif51/2008/03/31/positivisme-dan perkembangannya/. Diakses pada tanggal 15 November 2014.



0 komentar:

Posting Komentar