Sabtu, 31 Januari 2015

Pengukuran: Skala, Reliabilitas, dan Validitas

Oleh: Moh. Faisol
e-mail: faishal_114@yahoo.com
*Materi Kuliah S1

A.    Skala
Skala adalah suatu instrument atau memaknisme untuk membedakan individu dalam hal terkait variable minat yang kita pelajari. Menurut Sekaran (2006:15) ada empat tipe skala dasar: nominal, ordinal, interval, dan rasio.

1.      Skala Nominal
Skala nominal adalah skala yang memungkinkan peneliti untuk menempatkan subyek pada kategori atau kelompok tertentu. Menurut Indriantoro (2002:97) skala nominal merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori, kelompok atau klasifikasi dari kontruk yang diukur dalam bentuk variable.
Skala ini digunakan untuk memperoleh data pribadi seperti gender atau departemen tempat seorang bekerja, dimana pengelompokan individu atau objek. Contohnya: jenis kelamin (yang terdiri dari pria dan wanita).
2.      Skala Ordinal
Skala ordinal adalah skala pengukururan yang tidak hanya menyatakan kategori, tetapi juga menyatakan peringkat kontruk yang diukur (Indriantoro, 2002:98). Kelebihan skala ini jika dibandingkan dengan skala nominal adalah skala ordinal menyatakan kategori dan peringkat.
Skala ini digunakan untuk memeringkat preferensi atau kegunaan beragam jenis produk oleh konsumen dan untuk mengurutkan tindakan individu, objek, atau peristiwa. Contohnya: kategori dari yang buruk sampai yang baik dengan memberi nomor urut sesuai dengan tingkatannya.
3.      Skala Interval
Skala interval merupakan sakala pengukuran yang menyatakan kategori, peringkat dan jarak kontruk. Sedangkan menurut Indriantoro (2002:99) adalah skala menentukan perbedaan, urutan, dan kesamaan besaran perbedaan dalam variabel sehingga skala interval lebih kuat disbanding skala nominal dan ordinal.
Skala ini digunakan untuk respon beragam item yang mengukur suatu interval bisa dihasilkan dengan skala lima atau tujuh point. Contoh: Skala Likert.
4.      Skala Rasio
Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori, peringkat, jarak dan perbandingan kontruk yang diukur. Skala ini menggunakan nilai absolute, sehingga memperbaiki kelemahan skala interval yang menggunakan nilai relatif (Indriantoro, 2002:101). Kegunaan skala ini adalah digunakan dalam penelitian organisasi ketika angka pasti factor-faktor objektif.
Sekaran (2006:30) & Indriantoro (2008:102-107) membedakan antara empat skala sebagaimana disebutkan diatas dengan skala yang digunakan dalam mengukur sikap atau perilaku. Skala tersebut dibagi menjadi dua ketegori yaitu skala peringkat dan skala rangking (Sekaran, 2006:30). Berikut penjelasan dari masing-masing skala tersebut:
1.      Skala Peringkat
Skala peringkat (rating scale) merupakan skala yang memiliki beberapa kategori respond an digunakan untuk mendapatkan respon yang terkait dengan objek, peristiwa, atau orang yang dipelajari. Skala ini terbagi menjadi beberapa skala, yaitu:
a.       Skala dikotomi adalah skala yang menawarkan dua pilihan jawaban yang harus dipilih salah satunya. Literatur lainnya seperti Cooper (2006:38) dan Indriantoro (2008:102) menyebutnya sebagai ketegori sederhana.
Contoh: Apakah Anda mempunya kartu kredit? ‘Ya’   ‘Tidak’
b.      Skala kategori adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap yang berisi beberapa alternative ketegori pendapat yang memungkinkan bagi responden untuk memberikan alternative penilaian.
Contoh: Sangat Bagus, Bagus, Sedang, Jelek, Sangat Jelek
c.       Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap dengan menyatakan setuju atau ketidaksetujuannya terhadap subyek, objek atau kejadian tertentu.
Contoh: (1) Sangat setuju, (2) Setuju, (3) Netral, (4) Tidak Setuju, (5) Sangat Tidak Setuju.
d.      Skala Deferinsial Semantik adalah skala pengukuran sikap dengan menggunakan pernyataan ekstrem yang penilaiannya terdiri dari dua kutup.
Contoh: Baik-Buruk, Kuat-Lemah, Modern-Kuno.
e.       Skala Numerikal adalah skala semantik yang penilaian menggunakan nomor terdiri atas 5 atau 7 alternatif.
Contoh:          ___________________________
Sangat Sering 1       2        3       4      5      6     7 Tidak Pernah                                     
f.       Skala peringkat terperinci adalah skala pengukuran yang menyatakan pilihan responden dengan melingkari nomor satu dari 5 atau 7 titik yang ada.
g.      Skala jumlah konstan atau tetap adalah skala yang digunakan untuk pengukuran sikap dengan mendistribusikan sejumlah poin dan mengakumulasikannya.
h.      Skala stapel adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap dengan penilaian mulai dari +3 sampai -3 atas item yang ada.
i.        Skala peringkat Grafis adalah skala yang pengukuran yang menggunakan peringkat grafis atas jawaban responden untuk pertanyaan tertentu.
j.        Skala consensus adalah skala pengukuran sikap berdasarkan ketepatan atau relevansinya dengan konsep.
k.      Selain disebut diatas, skala peringkat juga bisa diukur dengan menggunakan penskalaan multidimensional.
2.      Skala Rangking
Skala rangking (rangking scale) merupakan skala yang digunakan untuk membuat perbandingan antar objek, peristiwa, atau orang, dan mengungkap pilihan yang lebih disukai dan merangkingnya. Adapun metode yang dipakai adalah perbandingan berpasangan, pilihan yang diharuskan, dan skala komparatif.
a.       Skala perbandingan berpasangan adalah skala yang digunakan ketika diantara sejumlah kecil objek, responden diminta untuk memilih antara dua objek ‘yang dibandingkan’ pada satu waktu.
b.      Skala pilihan yang diharuskan adalah skala pengukuran dengan meminta responden untuk merangking objek secara relatif satu sama lainnya.
Contoh: berilah rangking pada situs berita ter-update!
              www.kompas.com                       ____
              www.republika.com                    ____   
  www.jawapos.com                      ____
              www.detik.com                            ____





B.     Reliabilitas
Reliabilitas atau keandalan adalah suatu pengukuran yang menunjukkan sejauhmana pengukuran tersebut bebas dari kesalahan (bias), sehingga menjamin pengukuran yang konsisten secara lintas waktu dan beragam item dalam istrumen yang diuji (Sekaran, 2006:40). Keandalan suatu pengukuran merupakan indikasi mengenai stabilitas dan konsistensi dimana instrumen mengukur konsep dan membantu menilai “ketepatan’ sebuah pengukuran. Cooper (2006) menambahkan bahwa yang menjadi indikator dari keandalan juga kesetaraan atau ekuivalensi.
Pengujian dikatakan memiliki stabilitas jika penguji dapat menjamin hasil yang konsisten atas pengukuran yang dilakukan berulang kali atas orang yang sama dengan intrumen yang sama (Cooper, 2006:20). Berkaitan dengan indikator stabilitas pada uji keandalan ada dua alternatif yang bisa digunakan, yaitu keandalan tes ulang dan keandalan bentuk pararlel.
Indikator pengujian keandalan berikutnya adalah konsistensi. Data yang diuji dikatakan konsisten manakala hasil pengujian tersebut memiliki korelasi tinggi yang menginformasikan adanya kesamaan (homogenitas) diantara item-item (Cooper, 2006:22). Alternatif yang digunakan untuk menguji konsistensi bisa dilakukang dengan menggunakan keandalan konsistensi antar-item dan keandalan belah-dua. Kemudian yang menjadi kesulitan dalam pengujian ini adalah jedah waktu dinatara pengukuran, waktu yang tak cukup diantara pengukuran, ketajaman responden terhadap tujuan kajian yang disandarkan, dan kepekaan topik.
Sedangkan untuk ekuivalensi (kesetaraan) dilakukan atas keandalan yang mempertimbangkan banyaknya error yang dapat muncul dengan penyelidik yang berbeda (dalam observasi) atau sampel-sampel yang berbeda dari hal yang teliti dalam wawancara atau skala (Cooper, 2006:21).
C.    Validitas
Validitas merupakan pengujian atas instrument penelitian yang menyatakan bahwa intrumen tersebut memang benar-benar dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2010:172). Hal ini selaras dengan pertanyataan Ghiselli el.al., 1981: 266 dalam Yogiyanto (2010:120). Misalnya ‘meteran’ yang valid adalah meteran yang dapat mengukur panjang secara tepat dan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang.
Adapun cara yang seringkali digunakan dalam melakukan uji validitas terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1.      Validitas isi merupakan cara uji validitas yang mengukur tingkat dimana isi dari item-item cukup mewakili keseluruhan item yang relevan sesuai penelitian. Hal ini dapat dilakukan dengan metode penilaian dan evaluasi panel dengan rasio validitas isi (Cooper, 2006:17).
2.      Validitas berdasarkan kreteria merupakan cara uji validitas dikatakan terpenuhi jika pengukuran tersebut mampu membedakan individu menurut suatu kreteria yang diharapkan dapat diprediksi (Sekaran, 2006:43).

3.      Validitas konsep merupakan cara uji validitas yang menunjukkan seberapa baik hasil yang atas kesesuaian dengan desain teori yang menjadi dasar pengujian (Sekaran, 2006:44). Validitas konsep dinilai melalui validitas konvergen dan diskriminan.

Daftar Puskata:
Cooper, Donald R & Schindler, Pamela S. 2006. Metode Riset Bisnis Volume 2. Jakarta: PT Media Global Edukasi.
Indriantoro, Nur & Supono, Bambang. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi & Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Sekaran. 2006. Research Method for Business; Metodologi Penelitian untuk Bisnis Jilid 2. Jakarta: Salemba Empat
Sugiyono. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta
Yogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Yogyakarta: BPFE.

0 komentar:

Posting Komentar