Sabtu, 31 Januari 2015

Desain Pengambilan Sampel

Oleh: Moh. Faisol
*Materi Kuliah S1

A.    Populasi, Elemen, Sampel, Sampling Unit, dan Subjek

Istilah-istilah tersebut merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan ketika membahas tentang pengambilan sampel penelitian. Menurut Indriantoro & Supomo (2002:115) populasi adalah keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal yang menjadi objek penelitian dengan karasteristik tertentu. 

Elemen merupakan satu anggota populasi. Sampel adalah sekelompok atau sebagian dari populasi. Unit sampel merupakan sekelompok elemen. Dan subjek adalah satu anggota dari populasi.
Sedangkan pengambilan sampel itu sendiri dapat didefinisikan sebagai proses memilih sejumlah elemen secukupnya dari populasi, sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman tentang sifat atau karasteristiknya akan membuat kita dapat menggeneralisasikan sifat atau karasteristik tersebut pada elemen populasi.
1.      Alasan Pengambilan Sampel
Alasan pengambilan sampel adalah tidak lain untuk mengumpulkan data penelitian secara praktis sehingga mampu mengurangi rentan waktu penelitian, biaya penelitian, dan ketelitian dalam pengolahan data penelitian. Karena kita mengetahui bahwa jika populasi dari subjek penelitian diambil semua oleh peneliti akan mengakitkan rentan waktu penelitian yang lama, dibutuhkan biaya yang besar, dan tingkat ketelitian yang lebih cermat pula karena data yang diolah banyak (Sekaran, 2006: 124). Hal tersebut senada dengan Cooper & Schindler (2006: 113) yang menyebutkan alasan yang mendorong pengambilan sampel, yaitu biaya lebih rendah, hasil yang lebih akurat, dan pengumpulan data yang lebih cepat.
Sedangkan Davis & Cosenza, 1993:219-220; Zikmund, 2000:339-340 dalam Kuncoro (2013:119) alasan utama penggunaan sampel adalah:
1.      Kedala sumber daya. Berupa kendala waktu, dana, dan sumberdaya lain yang terbatas jumlahnya. Penggunaan sampel akan menghemat sumber daya untuk menghasilkan penelitian yang lebih dapat dipercaya daripada sensus.
2.      Ketepatan. Melalui pemilihan desain sampel yang baik, peneliti akan memperoleh data yang akurat, dengan tingkat kesalahan yang relative rendah.
3.      Pengukuran destruktif. Kadang-kadang pengukuran dilakukan merupakan pengukuran destruktif. Contoh apabila sebuah perusahaan yang memproduksi ban, dan kita harus menguji seberapa kemampuan tiap ban`dalam menyimpan udara dengan meniup setiap ban sampai meletus, maka kita tidak memiliki ban lagi yang dijual ke pasar.
2.      Normalitas Distribusi
Berdasarkan teori limit tengah menyatakan bahwa distribusi pengambilan sampel dari rata-rata sampel berdistribusi normal. Saat ukuran bertambah, rata-rata sampel acak yang diambil dari pendekatan populasi apapun merupakan distribusi normal dengan rata-rata µ dan standar deviasi ð.
3.      Karasteristik Sampel yang Baik
Suatu sampel dikatakan representatif manakalah sampel tersebut sudah dianggap cukup mewakili dari jumlah populasi, dimana dalam istilah pengukuran sering disebut sampel harus valid. Dimana validitas sebuah sampel itu tergantung pada dua hal, yaitu: akurasi dan presisi (Cooper & Schindler, 2006: 116-117). Pertama, akurasi merupakan tingkat ketidakbiasan sampel. Kedua, presisi merupakan seberapa dekat sampel tersebut mampu menggambarkan populasi. Dimana hal ini biasanya diukur dengan menggunakan standard error estimate atau perkiraan standar eror. Yogiyanto (2010:74-76) menjelaskan untuk meningkatkan akurasi sampel, maka peneliti harus memperhatikan; 1) pemilihan sampel berdasarkan proksi yang tepat, 2) Menghindari bias di seleksi sampel, 3) Mengnghindari bias hanya di perusahaan-perusahan  yang bertahan. Sedangkan presisi yang tinggi adalah manakalah mempunyai kesalahan pengambilan sampel (sampling error) rendah.
Berbeda dengan Kuncoro (2013: 120) menyebutkan setidaknya terdapat empat karasteristik sampel yang baik, yaitu:
a.       Sampel yang baik memungkinkan peneliti untuk mengambil keputusan yang berhubungan sengan besaran sampel untuk memperoleh jawaban yang dikehendaki.
b.      Sampel yang baik mengidentifikasikan probabilitas dari setiap unit analisis untuk menjadi sampel.
c.       Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung akurasi dan pengaruh (misalnya kesalahan) dalam pemilihan sampel daripada harus melakukan sensus.
d.      Sampel yang baik memungkinkan peneliti menghitung derajat kepercayaan yang diterapkan dalam estimasi populasi yang disusun dari sampel statistik.

B.     Proses Pemilihan Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mewakili populasi penelitian. Untuk memperoleh sampel yang dapat mewakili karasteristik popuplasi, diperlukan metode pemilihan sampel yang tepat sehingga dapat mencerminkan informasi dari populasi secara keseluruhan. Proses pemilihan sampel merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berurutan. Menurut Davis & Cosenza (1993:220-223); Zikmund (2000:342-347) dalam Kuncoro (2013:122-124) menyebutkan tahapan proses pemilihan sampel yang terdiri dari:
1.      Penentuan Populasi
Proses yang pertama untuk melakukan pemilihan sampel adalah penentuan populasi. Populasi bisa terbatas ataupun tak terbatas. Sebagai contoh populasi terbatas adalah penelitian terhadap perilaku manager muda pada tiga perusahaan manufaktur. Sedangkan contoh populasi tidak terbatas adalah penelitian pada perilaku manager perusahaan manufaktur yang ada di Indonesia.
2.      Penentuan Unit Pemilihan Sampel
Unit pemilihan sampel adalah sekelompok elemen. Dari populasi penelitian, elemen yang akan dikelompokkan menjadi satu atau beberapa kelompok tergantung pada desain pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti. Jika menggunakan random sampling, unit pemilihan sampel sama dengan populasi. Namun jika menggunakan desain yang lebih komplek seperti stratifikasi, maka akan terdapat lebih dari satu unit pemilihan sampel yang nantinya akan dipilih sebagai sampel penelitian.
3.      Penentuan Kerangka Pemilihan Sampel
Kerangka pemilihan sampel merupakan daftar elemen dari setiap unit pemilihan sampel. Penelitian terhadap mahasiswa tahun pertama misalnya dapat menggunkan daftar nama mahasiswa tahun pertama yang diperoleh di bagian administrasi. Apabila populasi yang akan diteliti adalah perusahaan manufaktur di Indonesia, kerangka pemilihan sampel bisa diperoleh dari daftar Direktori Perusahaan Manufaktur di seluruh Indonesia.
4.      Penentuan Desain Sampel
Desain sampel adalah metode untuk memilih sampel dari populasi yang ada. Ada beberapa macam desain sampel yang dapat dipergunakan oleh peneliti sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5.      Penentuan Jumlah Sampel
Sebagaimana diketahui, data yang akan dianalisis diperoleh dari sampel penelitian. Dengan demikian semakin besar jumlah sampel, dengan desain sampel yang benar, tentunya data yang diperoleh akan semakin mewakili populasi yang diteliti. Namun yang terpenting dari adalah bagaimana peneliti mampu menentukan sampel tersebut mewakili dari populasi dengan baik sehingga ‘disamping hal tersebut’ mampu mengurangi biaya penelitian.
6.      Pemilihan Sampel
Langkah terakhir dalam proses pemilihan sampel adalah memilih sampel yang diperlukan. Dalam langkah ini peneliti menentukan elemen yang akan menjadi sampel dari penelitian yang dilakukan.
Sehubungan dengan proses pemilihan sampel sebagaimana diuraikan diatas menurut Sekaran & Bougie (2010:286) hanya terdapat lima proses yaitu penentuan populasi, penentuan kerangka pemilihan sampel, penentuan desain sampel, penentuan jumlah sampel, dan pemilihan sampel.

C.    Pengambilan Sampel Cara Probabilitas dan Nonprobabilitas
  1. Pengambilan Sampel Cara probabilitas
Pengambilan sampel dengan cara probabilitas memiliki dua sifat, yaitu tidak terbatas (pengambilan sampel acak sederhana) atau terbatas (pengambilan sampel secara probabilitas kompleks). Pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling) merupakan pengambilan sampel secara sederhana, dimana setiap elemen populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai subjek. Menurut Davis & Cosenza (1993:227-231) prosedur pemilihan sampelnya adalah sebagai berikut:
a.       Tentukan populasi penelitian dan dapatkan unit pemilihan sampel.
b.      Tentukan besar sampel yang dikehendaki, misalnya dengan menggunakan rumus: n = [ZS/E]2
c.       Ambil sampel secara acak dari unit pemilihan sampel.
d.      Ulangi proses c sampai dengan jumlah sampel sama dengan besar sampel yang dikehendaki.
Sedangkan pengambilan sampel probabilitas kompleks adalah pengambilan sampel dengan berbagai alternatif yang dilakukan guna meningkatkan efisiensi pelaksanaan dengan menggunakan prosedur pengambilan sampel yg telah ditentukan. Ada lima desain dalam pengambilan sampel probabilitas yaitu; 
a.      Pengambilan sampel sistematis (Systematic Sampling)
Pengambilan sampel sistematis merupakan cara pengambilan yang hampir sama dengan random sederhana, hanya saja berbeda pada cara pengambilan elemen untuk menjadi sampel. Dalam pengambilan sistematis seluruh elemen yang ada pada unit pengambilan sampel diberi nomor urut mulai dari nomor 1 (Kuncoro, 2013:131). Kalau N adalah jumlah populasi sedangkan adalah jumlah sampel; maka peneliti akan memilih setiap elemen yang berbeda dengan nomor b untuk sampel, dimana b=N/dan mulai nomor 1 sampai nomor b.
Contoh: Misalanya dari populasi 2000 (N) dan sampelnya 25% atau 500 (n), maka nilai b sama dengan 2000/500 = 4. Kemudian sampel pertama ditentukan secara random yaitu angka 3. Maka sampel yang diambil adalah 3;7;11;15;19;23;27; dan seterusnya.
b.      Pengambilan acak berstrata (Stratified Random Sampling)
Pengambilan sampel acak berstrata dilakukan dengan terlebih dahulu mengklarifikasi suatu populasi ke dalam sub-sub populasi berdasarkan karasteristik tertentu dari elemen-elemen populasi. Misalnya berdasarkan jenis kelamin, jenis industri, tahun angkatan, size perusahaan. Kemudian sampel dipilih dari setiap sub populasi dengan metode acak sederhana atau sistimatis (Indriantoro & Supono, 2002: 125).
Ada dua jenis pengambilan sampel acak berstrata ini, yaitu pengambilan acak berstrata proporsional dan pengambilan acak berstrata disproporsional (Sekaran, 2006: 143-144)
c.       Pengambilan sampel klaster (cluster sampling)
Pengambilan sampel klaster dilakukan dengan membagi populasi menjadi beberapa group bagian dan kemudian dipilih secara random (Yogiyanto, 2010:78).
d.      Pengambilan sampel area (area sampling design)
Menurut Indriantoro & Supomo (2002: 129) pengambilan sampel area pada dasarnya merupakan metode pengambilan sampel acak berdasarkan kelompok yang digunakan untuk memilih sampel dari populasi yang lokasi geografisnya terpencar. Hal ini dilakukan jika factor lokasi menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan sampel. Area pemilihan sampelnya dapat dibagi berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan (propinsi, kabupaten, kota madya, atau area yang lebih kecil), berdasarkan wilayah pemasaran, produk perusahaan, atau menggunakan dasar pembagian area yang lain.
e.       Pengambilan sampel dobel (double sampling)
Pengambilan sampel dobel atau sequential sampling atau multiphase sampling merupakan metode pengambilan sampel yang mengumpulkan sampel dengan dasar sampel yang ada dan dari informasi yang diperoleh digunakan untuk mengambil sampel berikutnya (Yogianto, 2010:79). Misalnya data responden dapat dikumpulkan dari mail survey dan secara random dipilih beberapa untuk diinterview lebih detai sesuai dengan kreteria tertentu.
Tinjauan Desain pengambilan Sampel Cara Probalilitas
Berkaitan dengan desain pengambilan sampel dengan cara probabilitas ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
a.       Pengambilan sampel acak berstrata merupakan cara yang paling efisien, karena dengan jumlah sampel yang sama mampu memberikan informasi yang lebih teliti dan rinci.
b.      Pengambilan sampel sistematik memiliki resiko kemungkinan ‘bias sistematis’.
c.       Pengambilan sampel area merupakan cara pengambilan sampel paling popular dalam pengambilan sampel klaster.

  1. Pengambilan Sampel Cara Nonprobabilitas
Desain pengambilan sampel dengan probabilitas elemen dalam populasi untuk terpilih sebagai subyek sampel tidak diketahui. Pengambilan sampel ini memiliki dua kategori, yaitu pengambilan sampel  yang mudah dan pengambilan sampel bertujuan. Pengambilan sampel yang mudah (convenience sampling) merupakan pengumpulan informasi oleh peneliti dari anggota populasi dengan senang hati ‘secara nyaman’. Pengambilan sampel ini seringkali dipakai selama tahap eksplorasi proyek penelitian. Misalnya peneliti dalam penelitian mengenai perilaku konsumen terhadap suatu produk dapat melakukan survei kepada setiap pengunjung yang dijumpai di toko swalayan.
Sedangkan pengambilan sampel bertujuan (purposive sampling) merupakan pemberian informasi dari mereka yang paling siap dan senang hati bersedia, terkadang mendapatkan informasi dari kelompok sasaran spesifik. Tipe pengambilan sampel ini memiliki dua jenis, yaitu:
a.      Pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (judgment sampling).
Pengambilan sampel ini merupakan tipe pengambilan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu, umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian (Indriantoro & Supomo, 2002: 131). Misalnya  kreterinya adalah perusahaan yang sudah go public.
b.      Pengambilan sampel quota (quota sampling)
Pengambilan sampel ini dilakukan secara tidak acak dan berdasarkan kouta (jumlah tertinggi) untuk setiap kategori dalam suatu populasi (Indriantoro & Supomo, 2002: 131). Misalnya populasi terdiri dari 70% perusahaan kecil dan 30% perusahaan besar, maka sampel juga harus mempunyai kreteria sesuai dengan kreteri tersebut.
Selain convenience sampling dan purposive sampling Yogiyanto (2010:80); Kuncoro (2013:140-141); Cooper & Schindler (2002:141-142) menambahkan satu metode pengambilan sampel yaitu seampel secara bola salju (snowball sampling). Sampel ini dilakukan dengumpulkan sampel dari responden yang berasal dari referensi suatu jaringan, misalnya lewat newsgroup di internet.


Tinjauan Desain pengambilan Sampel Cara Nonprobalilitas
Berkaitan dengan desain pengambilan sampel dengan cara nonprobabilitas ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
a.       Pengambilan sampel yang mudah adalah cara pengambilan sampel yang kurang dapat diandalkan dalam hal generalisasi. Tetapi dalam konsidi tertentu cara pengambilan sampel ini menjadi alternatif sehubungan dengan penelitian eksploratif, informasi yang dibutuhkan cepat, dan ketepatan waktu.
b.      Pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu meskipun terbatas dalam generalisasi, cara ini menjadi pilihan jika terdapat populasi terbatas yang menyediakan informasi yang dibutuhkan.
c.       Pengambilan sampel quota seringkali digunakan dengan mempertimbangkan biaya, waktu, dan kebutuhan untuk merepresentasikan elemen minoritas dalam populasi.

D.    Pengambilan Sampel Dalam Penelitian Lintas Budaya
Sehubungan dengan jenis penelitian litas budaya, maka seorang peneliti harus peka terhadap persoalan dalam memilih sampel yang sesuai di Negara-negara berbeda. Sifat dan tipe organisasi yang telah dipelajari, apakah subyek berasal dari desa atau kota, dan tipe desai pengambilan keputusan yang digunaka harus sama dengan Negara yang berbeda untuk mendapatkan perbandingan yang sebenarnya.

E.     Persoalan Ketelitian dan Keyakinan Dalam Menentukan Ukuran Sampel
  1. Ketelitian
Konsep ketelitian dalam pengambilan sampel mengacu pada seberapa dekat taksiran kita dengan karasteristik populasi yang sebenarnya.
  1. Keyakinan
Keyakinan yang dimaksud disini adalah manakalah dari sampel yang kita ambil mampu menunjukkan seberapa dekat kita menaksir parameter populasi berdasarkan statistil sampel.
F.     Data Sampel, Ketelitian dan Keyakinan dalam Penaksiran
Ketelitian dan keyakinan merupakan isu penting dalam pengambilan sampel karena ketika menggunkan data sampel untuk menarik kesimpulan tentang populasi, kita berharap untuk hamper “mengenai sasaran”, dan mengetahui tingkat kemungkinan kesalahan. Karena taksiran poin (point estimate) tidak menyediakan ukuran kemungkinan kesalahn, kita melakukan penaksiran interval untuk memastikan penaksiran yang relative akurat terhadap parameter populasi. Statistik yang memiliki distribusi yang sama sebagai distribusi pengambilan sampel rata-rata yang digunakan dalam prosedur ini, biasanya statisik dan t.
G.    Data Sampel dan Pengujian Hipotesis
Data sampel selain digunakan untuk menaksir populasi penelitian, juga dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang nilai populasi dan korelasi populasi,  yang memberikan kesimpulan apakah hipotesis alternatif (H­aatau (H0diterima ataupun ditolak. Contoh yang mudah adalah ketika peneliti harus mencari nilai tabel, maka peneliti dituntut harus mengetahui jumlah sampel penelitian.

H.    Pentingnya Desain Pengambilan Sampel dan Ukuran Sampel
Pentingnya desain pengambilan sampel adalah penting untuk membentuk representasi sampel untuk generalisasi. Begitupun dengan ukuran sampel yang akan diambil, sehingga peneliti tepat dalam mengambil sampel; sampel yang diambil tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Menurut Roscoe (1975) dalam Sekaran (2006:160) mengusulkan aturan dalam menentukan akuran sampel, yaitu:
1.      Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian.
2.      Dimana sampel dipecah ke dalam subsample; (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainnya), ukuran sampel yang tepat minimum 30 untuk masing-masing kategori.
3.      Untuk penelitian multivariate (termasuk analisis regresi berganda), sebaiknya ukuran sampel minimal 10 kali lebih besar dari jumlah variabel yang diteliti.
4.      Untuk penelitian eksperimental sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok control, maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10 sampai dengan 20.
Adapun formula yang sering digunakan dalam menentukan ukuran sampel adalah sebagai berikut:
1.      Menurut Sekaran
µ = X ± k. sx
Keterangan:
µ    = rata-rata populasi
X   = rata-rata sampel
k    = nilai tabel pada tingkat kepercayaan tertentu
sx   = disperse (varian) populasi

2.      Menurut Zikmund
Sementara Zikmund (2000:289) mengusulkan metode menentukan sampel dengan formula sebagai berikut:
n = [ZS/E]­2
Keterangan:
n    = jumlah sampel
Z    = nilai yang sudah distandarisasi sesuai dengan derajat keyakinan
S    = standar deviasi
E    = tingkat kesalahan yang ditoleransi

3.      Menurut Slovin
N = n/N(d)+ 1      
Keterangan :
          = Sampel
         = Populasi        d = Nilai presisi 95% atau sig. = 0,05.
I.       Efisiensi dalam Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dapat dikatakan efisien manakalah untuk tingkat keletitian tertentu, ukuran sampel dapat dikurangi atau untuk ukuran sampel tertentu (n), tingkat ketelitian dapat ditingkatkan. Berikut perbandingan tingkat efisiensi antar metode pengambilan sampel, yaitu:
1.    Pengambilan sampel acak berstrata disproporsional lebih efisien dibandingakan dengan pengambilan sampel acak berstrata proporsional.
2.    Pengambilan acak sederhana lebih efisien dibandingkan pengambilan sampel klaster ‘karena dalam klaster terdapat banyak homogenitas’.
3.    Pengambilan sampel klaster multitahap lebih efisien dibandingkan dengan pengambilan sampel klaster satu tahap.
Dengan demikian, pemilihan desain pengambilan sampel tergantung pada tujuan penelitian, sekaligus tingkat dan sifat efisiensi yang diinginkan.

J.      Pengambilan Sampel Berkaitan dengan Studi Kualitatif
Studi kualitatif menggunakan sampel kecil, yang berarti bahwa generalisasi temuan sangat terbatas. Karena sampel yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum, bukan untuk digeneralisasikan. Prosedur analisis  data yang kebanyakan digunakan berupa tipe nonparametrik. Menurut Sugiyono (2010:292) metode pengambilan sampel yang sering digunakan adalah purposive sampling, dan snowball sampling.

DAFTAR PUSTAKA
Cooper, Donald R & Schindle, Pamela S. 2006. Metode Riset Bisnis, Volume 2, Edisi 9. Jakarta: PT Media Global Edukasi.
Indriantoro, Nur & Supono, Bambang. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi & Manajemen. Yogyakarta:BPFE-UGM.
Kuncoro. Mudrajad. 2013. Metodologi Riset untuk Bisnis & Ekonomi; Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesisi?. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sekaran, Uma & Bougie, Roger. 2010. Research Methods for Business, Fifth Edition. New York: Wiley. (dalam bentuk e-book)
Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Business; Metodologi Penelitian untuk Bisnis, Buku 2 edisi 4. Jakarta: Salemba Empat.
Sugiyono. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta
Yogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Yogyakarta: BPFE-UGM.

Zikmund, W.G. 2000. Business Research Methode, 6th ed. Forth Worth: Harcourt Inc.

0 komentar:

Posting Komentar