at Ranukumbolo Bersama Asisten Lab. Akuntansi

Sesungguhnya mukmin yang satu dengan yang lainnya adalah bersaudara

Pembekalan at KANWIL Dirjen Pajak Jatim III

Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (pengetahuan) diantara kalian.

Weekend at Sempu Island

Safir tajid iwadhan amman tufariquhu # fanshab fainna ladzidzal aisyi fin-nashabi.

Outbound Pimpinan Harian dan Kader IMM

Belajar, Bermain, dan Berlatih

Keluarga Lab Akuntansi saat Yudisium

Meraih cita cita sampai di penghujung sana

Saat Liburan di WBL and Gua Maharani

Yaa Sekali Kali Tau Wisata Jawa Timur lah....

Tantangan Pertama RPL HMJ Akuntansi

Setiap Kalian Adalah Pemimpin dan Bertanggungjawab atas Apa yang Dipimpinnya

MEMORY TMOL DAN TKDA HMJ AKUNTANSI 2012

Pemimpin yang baik itu apabila melahirkan generasi yang lebih baik darinya

Kamis, 13 November 2014

Elemen-Elemen Disain Penelitian dan Definisi Operasional

Oleh: Moh. Faisol
*Materi Kuliah S1

Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan bagian dari proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan dan menganalisis data penelitian sehingga mampu mencapai tujuan penelitian; memberikan solusi dll. Indriantoro (2002:86) menyebutkan bahwa elemen-elemen dalam desai penelitian meliputi: 1) tujuan studi, 2) tipe hubungan antar variabel, 3) lingkungan (setting) studi, 4) unit analisis, 5) horizon waktu, dan 6) pengukuran konstruk.
1.      Tujuan Studi: Eksplorasi, Deskriptif, dan Studi Kasus
Menurut Sekaran (2006:155-163) secara garis besar desain penelitian bisnis dibagi menjadi tiga, yaitu studi eksplorasi, studi deskriptif, dan studi kasus.
a.      Studi Ekslorasi
Studi Ekslorasi dilakukan dilakukan untuk memahami dengan lebih baik sifat masalah karena baru sedikit studi yang telah dilakukan dalam bidang tersebut. Atau bisa dikatakan studi ini dilakkukan untuk mengklarifikasi dan mendefinisikan suatu masalah yang bersifat fleksibel dan tidak untuk mencari kesimpulan akhir. Hal ini dilakukan untuk membantu memformulasikan masalah secara lebih tepat.
Sarwono (2008:57-58) menyebutkan bahwa studi eksplorasi menggunakan metode sebagai berikut:
a.       Survei yang dilakukan para ahli
b.      Studi kasus
c.       Analisis data sekunder
d.      Riset kualitatif dalam bentuk FGD
b.      Studi Deskriptif
Studi deskriptif dilakukan untuk mengetahui dan menjelaskan karasteristik variable yang diteliti dalam suatu situasi. Dengan istilah lain studi ini dilakukan untuk menggambarkan aspek-aspek yang relevam dengan fenomena dari perspektif seseorang, organisasi, orientasi industry, atau lainnya. Riset dengan pendekatan studi ini biasanya banyak dilakukan untuk menjawab atas pertanyaan: Who, What, When, Where, Why, dan Way (Sarwono, 2008; 58-59).
Adapun studi ini banyak ditemui dalam riset dengan menggunakan metode survei, observasi, dan analisis data sekunder.
c.       Analisis Studi Kasus
Analisis studi kasus dilakukan untuk memecahkan permasalahan. Dalam studi kasus yang bersifat kualitatif berguna dalam menerapkan solusi pada masalah terkini berdasarkan pemecahan masalah di masa lalu.

2.      Tipe Hubungan: Kausal Versus Korelasional
Studi kausal dilakukan oleh peneliti untuk menemukan penyebab dari satu atau lebih masalah. Sedangkan studi korelasional merupakan studi yang dilakukan peneliti untuk menemukan hubungan atau keterkaitan antara satu atau lebih variabel dengan variabel lainnya. Sebagai contoh dapat diperhatikan dalam pernyataan berikut:
Pernyataan studi kausal: Apakah Hujan Menyebabkan Demam?
Pernyataan studi korelasional: Apakah Hujan dan Demam Berkaitan?

3.      Lingkungan Studi: Tingkat Intervensi Peneliti terhadap Studi
Adanya intervensi peneliti dalam riset mempunyai peranan dalam menentukan secara langsung apakah studi yang dilakukan adalah kausal dan korelasional. Bentuk intervensi peneliti dalam riset terdiri dari: intervensi minimal, intervensi sedang, dan intervensi berlebih.

4.      Unit Analisis: Individual, Pasangan, Kelompok, Organisasi, Kebudayaan
Unit analisis merupakan tingkat agregasi data yang dianalisis dalam penelitian. Unit analisis yang ditentukan berdasarkan pada rumusan masalah atau pernyataan penelitian merupakan elemen penting dalam desain penelitian karena mempengaruhi proses pemilihan, pengumpulan dan analisis data. Adapun bentuk unit analisis dari ‘perilaku pekerja’ dapat berupa; 1) Individual: jika yang diamati adalah perilaku pekerja secara individual, 2) Kelompok: jika fokus yang diteliti adalah perilaku pekerja secara kelompok, 3) Organisasional: jika fokus yang diteliti perilaku pekerja secara organisasional, dan 4) Kebudayaan: jika fokus yang digunakan kebiasaan dari pekerja berdasarkan budayanya.

5.      Horizon Waktu: Studi Versus Longitudinal
Sehubungan dengan horizon waktu ‘lamanya’ penelitian, Sekaran (2006: 177-178) membedakan menjadi dua bagian: 1) Studi Cross-Sectional atau one shot ; studi yang dilakukan dengan sekali mengumpulkan data; periode harian, mingguan, bulanan, dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian, dan 2) Longitudinal: studi dilakukan dalam penelitian yang melintasi suatu periode waktu yang cukup lama dalam menjawab pertanyaan penelitian. Sementara Indriantoro (2008; 95) membedakan antara studi Cross-Sectional dan  one shot study, dimana one stot study digunakan pada penelitian yang menggunakan periode pengumpulan data harian, mingguan, bulan, dan tahun. Sedangkan Cross-Sectional study digunakan untuk penelitian komparasi yang menggunakan data tahunan. Contohnya: Komparasi Profitabilitas selama 5 tahun.

Definisi Operasional
Indriantoro (2002:69) mendefinisikan definisi operasional adalah penentuan kontruk sehingga menjadi variable yang dapat diukur. Definisi operasional menjelaskan cara tertentu yang digunakan oleh peneliti dalam mengoperasionalisasikan kontruk, sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran kontruk yang lebih baik. Sehubungan dengan definisi operasional yang perlu diperhatikan adalah turunan dalam menjelaskan sebuah konsep yang melahirkan sebuah dimensi-dimensi, kemudian dimensi tersebut menlahirkan elemen-elemen (Yogiyanto, 2010:63).   

                   Bagan Pengoperasionalan Definisi Operasional (lih. Yogiyanto, 2010)

Alat yang digunakan untuk menjelaskan atau mengukur atas konstuk ‘variabel’ yaitu berupa skala. Skala adalah suatu instrument atau memaknisme untuk membedakan individu dalam hal terkait variable minat yang kita pelajari. Menurut Sekaran (2006:15) ada empat tipe skala dasar: nominal, ordinal, interval, dan rasio.

1.      Skala Nominal
Skala nominal adalah skala yang memungkinkan peneliti untuk menempatkan subyek pada kategori atau kelompok tertentu. Menurut Indriantoro (2002:97) skala nominal merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori, kelompok atau klasifikasi dari kontruk yang diukur dalam bentuk variable.
Skala ini digunakan untuk memperoleh data pribadi seperti gender atau departemen tempat seorang bekerja, dimana pengelompokan individu atau objek. Contohnya: jenis kelamin (yang terdiri dari pria dan wanita).
2.      Skala Ordinal
Skala ordinal adalah skala pengukururan yang tidak hanya menyatakan kategori, tetapi juga menyatakan peringkat kontruk yang diukur (Indriantoro, 2002:98). Kelebihan skala ini jika dibandingkan dengan skala nominal adalah skala ordinal menyatakan kategori dan peringkat.
Skala ini digunakan untuk memeringkat preferensi atau kegunaan beragam jenis produk oleh konsumen dan untuk mengurutkan tindakan individu, objek, atau peristiwa. Contohnya: kategori dari yang buruk sampai yang baik dengan memberi nomor urut sesuai dengan tingkatannya.
3.      Skala Interval
Skala interval merupakan sakala pengukuran yang menyatakan kategori, peringkat dan jarak kontruk. Sedangkan menurut Indriantoro (2002:99) adalah skala menentukan perbedaan, urutan, dan kesamaan besaran perbedaan dalam variable sehingga skala interval lebih kuat disbanding skala nominal dan ordinal.
Skala ini digunakan untuk respon beragam item yang mengukur suatu interval bisa dihasilkan dengan skala lima atau tujuh point. Contoh: Skala Likert.

4.      Skala Rasio
Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori, peringkat, jarak dan perbandingan kontruk yang diukur. Skala ini menggunakan nilai absolute, sehingga memperbaiki kelemahan skala interval yang menggunakan nilai relatif (Indriantoro, 2002:101). Kegunaan skala ini adalah digunakan dalam penelitian organisasi ketika angka pasti factor-faktor objektif.
Menurut Indriantoro (2002:102-107) ada beberapa skala yang digunakan khusus untuk mengukur sikap (attitude measurement method) yaitu: skala sederhana, skala kategori, skala likert, skala perbedaan semantic, skala numeris, dan skala grafis.
             
Daftar Pustaka:
Indriantoro, Nur & Supono, Bambang. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi & Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Sakaran, Uma. 2006. Research Methods for Business; Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.
Sarwono, Jonathan & Martadiredja, Tutty. 2008. Riset Bisnis untuk Pengambilan Keputusan.Yogyakarta: Penerbit Andi.

Yogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah kaprah dan pengalaman-pengalaman. Yogyakarta:BPFE.

Selasa, 11 November 2014

Permasalahan, Kerangka Teoritis dan Penyusunan Hipotesis

Oleh: Moh. Faisol
*Materi Kuliah S1

Permasalahan
            Masalah merupakan suatu situasi dimana terdapat celah antara keadaan actual dan keadaan ideal yang diharapkan (Sekaran, 2006;91). Hal tersebut dapat dinyatakan dalam pertanyaan yang jelas, tepat, dan ringkas atau persoalan yang diinvestigasi untuk menemukan jawaban, atau solusi. Berkaitan dengan situasi sebagaimana disebutkan diatas munculnya sebuah masalah tidak terlepas dari sebagai bahan mencari solusi, mengingkatkan kualitas dll, penyusunan teori yang lebih baik, dan sebagai jawaban atas pernyataan yang diajukan oleh peneliti atas topik yang menjadi fokus risetnya. Sebagai contoh bentuk masalah yang dibuat dalam penelitian adalah ‘Bagaimana pengaruh politik terhadap pergerakan IHSG?’
1.      Identifikasi Topik Penelitian
Sebagai peneliti tentunya tidak dipungkiri identifikasi topic penelitian merupakan bagian awal menentukan permasalahan dalam risetnya. Tahap ini seringkali dianggap sulit dilakukan, karena seringkali topic yang diangkat sudah pernah dilakukan penelitian, atau bahkan topik tersebut sudah tidak relevan dan kondisi saat ini dilakukan penelitian. Dengan demikian ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam seleksi topic penelitian yaitu:
a.        Apa ada permasalahan?
b.      Apakah masalah tersebut dapat dipecahkan melalui penelitian?
c.       Apakah masalah tersebut menarik untuk dipecahkan?
d.      Apakah masalah tersebut bermanfaat untuk dipecahkan?

2.      Sumber Permasalahan
Bagi peneliti terdapat beberapa sumber permasalah yang menjadi inspirasi dalam melakukan riset diantaranya; pertama, literature atau bahan bacaan yang berhubungan dengan minat dan pengetahuan peneliti. Kedua, pengalaman (pribadi) yang dialami dalam dunia nyata. Ketiga, penelitian terdahulu sehinggal peneliti selanjutnya mampu menemukan topic baru yang barangkali sebagai perbaikan ataupun pengembangan.
3.      Karasteristik Permasalahan Penelitian
Menurut Kuncoro (2013;31-32) ada beberapa karasteristik permasalan yang setidaknya dipenuhi dalam penelitian, yaitu: permasalahan dapat diselidiki melalui pengumpulan dan analisis data, memiliki arti penting dari latar belakang teori maupun praktek (memberikan manfaat), peneliti memiliki keahlian dalam bidang tersebut, dan adanya kemampuan peneliti terkait dengan sumber daya, dana, serta waktu.
4.      Identifikasi Masalah
Menurut Kuncoro (2013;33-34) terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam identifikasi masalah penelitian, yaitu kegunaan penelitian, prioritas, kendala waktu dan dana, dapat diselidiki, dan kemampuan peneliti.

Kerangka Teoritis
1.      Pentingnya Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis merupakan fondasi dimana suatu proyek penelitian didasarkan. Seringkali kerangka teoritis disebut sebagai jaringan asosiasi yang disusun, dijelaskan, dan dielaborasi secara logis antarvariabel yang dianggap relevan pada situasi masalah dan diidentifikasi melalui proses seperti wawancara, pengamatan, dan survey literatur (Sekaran, 2006:127-128). Untuk itu keberadaan kerangka teoritis menjadi sebagai dasar konseptual bagi penelitian dikarenakan untuk mengidentifikasi hubungan antar variable yang dianggap penting bagi studi terhadap situasi masalah apapun, sangat penting untuk memahami apa arti variable dan apa saja jenis variabel yang ada.

2.      Variabel dalam Kerangka Teoritis
Variabel adalah apapun yang dapat membedakan atau membawa variasi pada nilai. Nilai bisa berbeda pada berbagai waktu untuk objek atau orang yang sama, atau pada waktu yang sama untuk objek atau orang yang berbeda (Sekaran, 2006: 115). Sebagai contoh adalah unit produksi, dan motivasi. Terdapat banyak jenis variable dalam metodologi penelitian, yaitu variabel terikat (dependent variable), variabel bebas (independent variable), variabel moderator (moderating variable), dan variabel antara (intervening variable).
3.      Komponen Kerangka Teoritis
Menurut Sekaran (2006:129) dalam membuat kerangka teoritis ada banyak hal yang harus diperhatikan oleh peneliti, diantaranya adalah
a.    Variable yang dianggap relevan untuk studi harus diidentifikasi dan dinamai dengan jelas dalam pembahasan.
b.    Pembahasan harus menyebutkan mengapa dua atau lebih variable berkaitan satu sama lain.
c.    Bila sifat dan arah hubungan dapat diteorikan berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, maka harus ada indikasi dalam pembahasan penelitian apakah hubungan akan positif atau negative.
d.   Harus ada penjelasan yang gambling mengenai mengapa kita memperkirakan hubungan tersebut berlaku. Argument bisa ditarik dari temuan penelitian sebelumnya.
e.    Suatu diagram skematis kerangka teoritis harus diberikan agar pembaca dapat melihat dan dengan mudah memahami hubungan yang diteorikan.


Penyusunan Hipotesis
Kuncoro (2013:59) mendefinisikan hipotesis sebagai suatu penjelasan tentang perilaku, fenomena, atau keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi. Hipotesis merupakan pernyataan peneliti tentang hubungan antara variable-variabel dalam penelitian, serta merupakan pernyataan yang paling spesifik. Dan seringkali hipotesis disebut sebagai pernyataan jawaban sementara yang disusun oleh peneliti, yang kemudian diuji kebenarannya melalui penelitian yang dilakukan. Sehingga fungsi hipotesis dalam penelitian adalah sebagai pedoman untuk dapat mengarahkan penelitian agar sesuai dengan apa yang diharapkan peneliti.
1.      Karasteristik Hipotesis
Beberapa karasteristik hipotesis yang diungkapkan oleh Kuncoro (2013:60) yaitu:
  1. Konsisten dengan penelitian sebelumnya
  2. Penjelasan yang masuk akal
  3. Perkiraan yang tepat dan terukur
  4. Dapat diuji
Selain dari karasteristik tersebut diatas Sekaran (2006:136) memberikan cirri bahwa dalam pembuatan hipotesis seringkali dinyatakan dengan menggunakan format kata ‘Jika-Maka’.
2.      Jenis Hipotesis
Berdasarkan penurunannya ‘bagaimana hipotesis tersebut diperoleh’ hipotesis memiliki dua jenis, yaitu hipotesi deduktif dan induktif. Hipotesis deduktif dimana hipotesis tersebut menggunakan perluasan logika dari penemuan-penemuan yang telah ada, atau didasarkan pada hal-hal yang bersifat umum yang telah diterima kebenarannya. Sedangkan hipotesis induktif dimana hipotesis tersebut disusun secara generalisasi berdasarkan observasi.
Adapun dari sisi pernyataannya ‘bagaimana hipotesis dinyatakan’ hipotesis dklasifikasikan sebagai hipotesis penelitian dan hipotesis statistic. Hipotesis penelitian biasanya dinyatakan dalam bentuk kalimay pernyataan (deklaratif), sedangkan hipotesi statistic dalam bentuk hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternative (Ha) (Kuncoro, 2013:61).
Sementara Sekaran (2006:137) menambahkan bahwa terdapat hipotesis direksional dan nondireksional. Hipotesis direksional merupakan hipotesis yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau membandinkan dua kelompok, seperti menggunakan istilah positif, negative, lebih dari, kurang dari dan sejenisnya. Sedangkan hipotesis nondireksional adalah hipotesis yang mendalilkan hubungan atau perbedaan, tetapi tidak memberikan indikasi mengenai arah dari hubungan atau perbedaan tersebut. Sebagai contoh: ada hubungan antara usia dan kepuasan kerja.
3.      Uji Hipotesis
Tidak kalah pentingnya dengan tahapan yang lain, uji hipotesis merupakan salah satu indikator bagi peneliti untuk menilai apakah penelitian tersebut ilmiah atau tidak, apa hasil dari penelitian tersebut dll. Betapa pentingnya uji hipotesis Sekaran (2006:141) menyebutkan langkah-langkah yang harus diikuti dalam pengujian hipotesis adalah:
a.       Menyatakan hipotesis nol dan alternative
b.    Memilih uji statistic yang tepat berdasarkan apakah data yang dikumpulkan adalah parametric atau nonparametric.
c.    Menentukan tingkat signifikansi yang diinginkan (p=0,05 atau lebih, atau kurang)
d.   Memastikan jika hasil dari analisis computer menunjukkan bahwa tingkat signifikansi terpenuhi (dengan melihat table)
e.    Jika nilai hitung (resultant value) lebih besar dari nilai kritis (critical value), hipotesis nol ditolak, dan alternatif diterima. Jika nilai hitung lebih kecil daripada nilai kritis, hipotesis nol diterima dan alternatif ditolak.

Daftar Pustaka:
Kuncoro, M. 2013. Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: Salemba Empat

Sakaran, Uma. 2006. Research Methods for Business; Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.