Rabu, 04 September 2013

KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN



Kerangka dasar merupakan suatu pondasi atau bingkai (frame) yang mendasari sesuatu. Menurut Kieso (2008)[1] kerangka dasar atau kerangka kerja konseptual (conseptual framework) diartikan dengan suatu sistem hoheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batasan-batasan (akuntansi keuangan dan laporan keuangan). Sehingga kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan menjadi sebuah acuan dan asas utama dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan suatu entitas dengan andal, akuran, dan relevan yang nantinya mampu menghasilkan informasi yang berterima umum, tidak bias.


[1]Kieso, dkk, 2008. Intermediate Accounting: 12 Edition. Jakarta: Penerbit Erlangga

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) [1] menyebutkan bahwa kerangka dasar merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laopran keuangan bagi para pemakai eksternal. Tujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:
a.       Komite penyusun standar akuntansi keuangan, dalam pelaksanaan tugasnya
b.      Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan
c.       Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
d.      Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan
            Sejarah sehubungan dengan perkembangan kerangka dasar (kerangka konseptual) selama bertahun-tahun lamanya belum mampu memberikan pemahaman universal dan andal dalam praktek akuntansi. Misalnya sejak tahun 1976 Financial Accounting Standart Board (FASB)[2] mulai mengembangkan kerangka konseptual untuk menjadi dasar penetapan standar akuntansi dan pemecahan kontroversi pelaporan keuangan kala itu. FASB itu sendiri menghasilkan setidaknya 6 (enam) Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC)[3], yaitu:
1.      SFAC No. 1, “Objectives of financial repoorting by business enterpries” yang menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.
2.      SFAC No. 2, “Qualitative Characteristics of Accounting Information”, yang menjelaskan karasteristik yang membuat informasi akuntansi.
3.      SFAC No. 3, “Elements of Financial Statements of Business Enterprises, yang memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan, seperti asset, kewajiban, pendapatan, dan beban.
4.      SFAC No. 5, “Recognition and Measurement in Financial Statements of Business Enterprisesyang menetapkan kreteria pengakuan dan pengukuran fundamental.
Serta pedoman tentang informasi apa yang biasanya harus dimasukan dalam laporan keuangan dan kapan waktunya.
5.      SFAC No. 6, “Elements of Financial Statements(mengganti SFAC No. 3)dengan memasukan organisasi-organisasi nirlaba.
6.      SFAC No. 7, “Using Cash Flow Information and Present Value in Accounting Measurementyang memberikan kerangka bagi pemakai arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran.

BAHASAN KERANGKA DASAR
Kerangka dasar ini membahas laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements, yang selanjutnya hanya disebut "laporan keuangan"), termasuk laporan keuangan konsolidasi, yang disusun dan disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Beberapa di antara pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Poin-poin penting yang dibahas dalam kerangka dasar yang terdiri dari:[4]
a.       tujuan laporan keuangan;
b.      karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan;
c.       definisi, pengakuan dan pengukuran unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan; dan
d.      konsep modal serta pemeliharaan modal

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN[5]
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi (SAK Nomor 1)[6]. Sebagai catatan laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.

ASUMSI DASAR[7]
Dasar Aktual
Pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan yang-disusun atas dasar akrual me mberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang merepresentasikan kas yang akan diterima di masa depan. Oleh karena itu laporan keuangan menyediakan jenis informasi transaksi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha perusahaan dan akan melanjutkan usahanya di masa depan. Karena itu, perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya. Jika maksud atau keinginan tersebut timbul, laporan keuangan mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang digunakan harus diungkapkan.

KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN[8]
1.     Dapat Dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai. Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai tertentu .
2.     Relevan
Informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan yang nantinya dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mere ka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.
3.     Materialitas
Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement). Karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang berguna.
4.     Keandalan
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.
5.     Penyajian Jujur
Informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Jadi, misalnya, neraca harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya dalam bentuk aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan pada tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria pengakuan.
6.     Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan yang berlawanan .
7.     Pertimbangan Sehat
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva atau penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah.


8.     Kelengkapan
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan (omission) mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansi.
9.      Dapat Dibandingkan
Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.

KENDALA INFORMASI YANG RELEVAN DAN ANDAL[9]
  1. Tepat Waktu
Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan manfaat relatif antara pelaporan tepat waktu dan ketentuan informasi andal.
  1. Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat
Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan kendala yang pervasif daripada karakteristik kualitatif. Manfaat yang dihasilkan informasi seharusnya melebihi biaya penyusunannya. Namun demikian, evaluasi biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya tersebut juga tidak perlu harus dipikul oleh pemakai informasi yang menikmati manfaat.
  1. Keseimbangan di antara Karakteristik Kualitatif
Keseimbangan atau trade-off diantara berbagai karakteristik kualitatif sering diperlukan. Pada umumnya tujuannya adalah untuk mencapai suatu keseimbangan yang tepat di antara berbagai karakteristik untuk memenuhi tujuan laporan keuangan. Kepentingan relatif dari berbagai karakteristik dalam berbagai kasus yang berbeda merupakan masalah pertimbangan profesional.
  1. Penyajian Wajar
Laporan keuangan sering dianggap menggambarkan pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan.
UNSUR LAPORAN KEUANGAN[10]
1.      Laporan Posisi Keuangan
2.      Laporan Laba Rugi (komperhensip)
3.      Laporan Perubahan Modal
4.      Laporan Arus Kas
5.      Catatan Atas Laporan Keuangan

PENGUKURAN UNSUR LAPORAN KEUANGAN[11]
Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan abal rugi. Proses ini menyangkut pemilihan dasar pengukuran tertentu.
a.       Biaya historis
b.      Biaya kini (current cost)
c.       Nilai realisasi/penyelesaian (realisable/settlement value).
d.      Nilai sekarang (present value).


[1] Standar Akuntansi Keuangan
[2]Kieso, dkk, 2008. Intermediate Accounting: 12 Edition. Jakarta: Penerbit Erlangga (Hal. 33)
[3]Suwardjono, 2008. Teori Akuntansi. Yogyakarta: FEB-UGM
[4] Standar Akuntansi Keuangan
[5] Standar Akuntansi Keuangan
[6] Standar Akuntansi Keuangan
[7] Standar Akuntansi Keuangan
[8] Standar Akuntansi Keuangan
[9] Standar Akuntansi Keuangan
[10] Standar Akuntansi Keuangan dan Kieso, dkk, 2008. Intermediate Accounting: 12 Edition. Jakarta: Penerbit Erlangga
[11] Standar Akuntansi Keuangan

3 komentar: