Rabu, 24 Juli 2013

Study Korelatif Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kepribadian Santri

Latar Belakang Masalah
 
Dalam kehidupan ini banyak orang yang salah menilai tentang tingkat kesuksesan hidup seseorang, mereka menganggap orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi adalah standar bagi orang sukses, sedangkan mereka yang tidak memiliki kecerdasan intelektual, biasa-biasa saja atau dibawah rata-rata dianggap orang yang tidak sukses. Pendapat miring seperti ini juga terjadi dalam lingkungan sekolah, para oknum di sekolah menganggap siswa yang memiliki kecerdasan intelektual atau kecerdasan intelektual tinggi dibidang matematika, linguistik dan lainnya dianggap sebagai siswa yang “pintar” sedangkan mereka yang memiliki otak biasa-biasa saja dan bakat dibidang kesenian, keterampilan olahraga, kepemimpinan dianggap siswa yang “tidak pintar” dan kurang mendapatkan perhatian dari sekolah.
Anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpuh pada dimensi intelektual saja sudah tidak berlaku lagi. Selain kecerdasan intelektual (IQ), manusia juga masih memiliki dimensi kecerdasan lainnya, yaitu: Kecerdasan Emosional atau EQ ( Emotial Quotiont ). (Asnawi, 2005. www.formiskat.com.)
Setelah para ilmuan banyak melakukan penelitian dalam bidang kecerdasan, mereka berpendapat bahwa kecerdasan intelektual saja bukan jaminan untuk mendapat dan menjadi ukuran bagi kesuksesan seseorang. Hal ini dibuktikan dari banyaknya kasus, misalnya banyak kita jumpai orang yang berpendidikan tinggi dan nilai lulusnya bagus, tetapi dalam masyarakat tidak lebih sukses dibanding orang yang berpendidikan rendah, atau banyak orang yang berpendidikan rendah tetapi hidupnya lebih sukses dan memiliki peranan penting dalam masyarakat, lebih mampu menjadi pemimpin, daripada orang yang berpendidikan tinggi, karena memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.
Memasuki abad 21, legenda IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolak ukur kecerdasan yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan manusia, digugurkan oleh munculnya konsep Kecerdasan Emosional atau EQ (Emosional Quotiont). Kesuksesan manusia dan juga kebahagiannya, ternyata lebih berkaitan dengan beberapa jenis kecerdasan selain kecerdasan intelektual (IQ). (Asnawi, 2005. www.formiskat.com.)
“Menurut tasawuf ilmu itu ada dua macam, yaitu ilmu lahiriah dan ilmu batiniyah. Ilmu lahiriah adalah ilmu yang dicapai dan dikembangkan oleh akal pikiran. Ilmu seperti itu bisa disebut dengan ilmu pengetahuan dan memerlukan IQ. Sedangkan ilmu batiniah adalah ilmu yang dicapai dengan latihan spiritual yang memungkinkan orang memempuh ilmu seperti ini mendapatkan ilmu langsung dari Allah tanpa memiliki otak pikir. Ilmu seperti ini disebut ilham atau ilmu laduni, dan ilmu ini memerlukan kecerdasan emosional dan intelektual.”
AL-AMIEN PRENDUAN dengan sistem mu’allimiennya bukan saja lembaga yang hanya bertujuan untuk memberikan ilmu kepada para santrinya, melainkan juga menanamkan jiwa kepemimpinan, kemandirian, kesederhanaan, saling tolong-menolong kepada setiap anak didiknya, agar nantinya menjadi pribadi-pribadi yang berbudi pekerti luhur dan bermanfaat baik untuk dirinya maupun orang lain agar menjadi mundzirul qaum demi tercapainya cita-cita umat Islam yaitu menjadi Khairul Ummah di muka bumi ini.
Maka, dalam penelitian kali ini penulis mencoba menyingkap sebuah fenomena bagaimana kecerdasan emosional yang memiliki oleh seorang santri dalam membentuk kepribadiannya dalam kehidupan kesehariannya di pondok TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah rumusan soal-soal yang akan diteliti untuk ditemukan jawabannya. Berdasarkan latar berlakang yang penulis kemukakan di atas, maka di rumuskan:
  1. Adakah pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas IV A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN?
  2. Sejauh mana pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas IV A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN?
Tujuan Penelitian
Daran hasil penelitian ini, penulis bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam tantang kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seorang santri.
Selain itu, penulis bertujuan juga mendapat tambahan ilmu tentang:
  1. Pengertian global dan komperhensif dari kecerdasan emosional dan peranannya dalam kehidupan.
  2. Bagaimana membantuk kepribadian yang baik dan menjadi insanul kamil.
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Sebagai sumbangan dari pengalaman dan pengetahuan yang selama ini peneliti dapatkan.
  2. Agar bisa dijadikan bahan referensi atau rujukan bagi yang membutuhkan.
  1. Sebagai refleksi bagi santri sejauh mana pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri.
Alasan Pemilihan Judul
  1. Alasan Objektif
  • PenPentingnya masalah itu diteliti
  • Judul tersebut menarik minat penulisAlasan Subjektif
  1. Alasan Subjektif
  • Penulis tertarik meneliti masalah ini karena ingin mengetahui adanya pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN.
  • Penulis sadar bahwa kecerdasan emosional sangat penting dan merupakan penentu bagi kepribadian seseorang dalam hidupnya.

 Asumsi Penelitian
Asumsi disebut juga anggapan dasar (postulat). Sedangkan menurut Surahmat, “Asumsi adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima penyelidik”. (Dhofir, 1997:23)
Dari pengetahuan tersebut, penulis menjelaskan bahwa asumsi dari penelitian ini adalah andanya pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian, karena kecerdasan emosional berperan dalam membentuk kepribadian.
Hipotesis Penelitian
  1. Hipotesa Nihil (H0)
Tidak adanya pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN.
2. Hipotesa Kerja (H1)
Adanya pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN.
Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian yang penulis teliti bisa menghasilkan penelitian yang efektif dan efisien, maka penulis akan membatasi ruang lingkup pembahasan sebagaimana berikut:
Variable X
(Kecerdasan Emosional )
Variable Y
(Kepribadian)
  1. 1.    Definisi
  2. 2.    Pendapat dan pandangan tentang Kecerdasan Emosional
  3. 3.    Meningkatkan kecerdasan Emosional
  4. 4.    Ciri-ciri Kecerdasan Emosional
  5. 1.    Pengertian Kepribadian
  6. 2.    Mengenal diri kita
  7. 3.    Kepribadian yang mulia
  8. 4.    Menjadi pribadi yang berpengaruh

Batasan Istilah Dalam Judul
Untuk menghindari kesimpangsiuran dalam memahami judul paper ini, penulis perlu membatasi bahwa judul paper ini adalah “Kecerdasan Emosional Terhadap Kepribadian Sanri Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN”.
Untuk mempermudah penulis dan pembaca dalam memahami tema di atas, maka, penulis akan memberikan batasan judul yang berkenaan dengan judul paper diatas. Adapun batasannya adalah sebagai berikut:
1.  Pengertian Konseptual
a. Kecerdasan : Kesempurnaan perkembangan akal budi (spt kepandaian, ketajaman pikiran). (Pusat Bahasa,1991:168)Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menangkap, merespon dan memahami sesuatu dengan cepat dan cermat.
b. Emosional   : Perasaan terhadap suatu rangsangan hingga menimbulkan rasa haru, kolap, marah dsb. (Pertanta dan Al Barry, 1994: 148)Perasaan yang dimiliki seseorang dalam mengenali dirinya sendiri dan berinteraksi dengan orang sekitarnya sehingga menjadi pribadi yang sempurna.
c. Kepribadian : Gambaran dari organisasi yang dinamis dari fisik dan psikis seseorang yang memiliki bentuk karakteryang unik dalam menyesuaikan dengan dirinya dan lingkungan sekitarnya (Jauhari, 2005:127)Bentuk dan keadaan yang dimiliki oleh seseorang sebagai ciri khasnya sehingga menentukan sikap dan prilaku yang dikerjakannya sehari-hari.
2. Pengertian Operasional
Secara singkat judul diatas mencoba memaparkan pembahasan tentang bagaimana seorang santri, di samping dia memiliki kecerdasan intelektual tinggi tetapi, dia juga mampu bergaul dengan teman-temannya, bersosialisasi dengan lingkungannya, dan juga ketaatan kepada Allah SWT yang tinggi, sehingga mampu menjadi seoarng pribadiyang memiliki budi pekerti  luhur, berdasarka pada tinggkah laku cara bergaul dan metode belajar serta ketaatan beribadah.
Metode Penelitian
Adapun beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ini sebagaimana berikut :
1. Metode Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data adalah cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data. Dengan langkah yang benar dan tepat, sebuah penelitian akan menghasilkan data yang akurat dan valid.
Agar penelitian ini bisa menyampaikan kevaliditasan dari segi yang dilakukan, maka penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan, yang menggunakan metode penentuan sebagai berikut:
2. Penentuan Populasi dan Sampel
Populasi adalah kumpulan yang lengkap dari pada seluruh elemen yang sejenis, akan tetapi dapat dibedakan satu sama lainnya. Adapun populasi dalam penilitian ini adalah semua anggota kelas VI A yang berjumlah 24 orang.
Maka, dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode populasi melihat jumlah responden yang kurang dari 100.
2. Penentuan Instrumen
Teknik atau metode pengumpulan data yang akan penulis gunakan dalam paper ini adalah sebagai berikut:
  • Metode Angket atau Kuesioner
Dalam penilitian ini peneliti mengunakan Metode Angket. Angket adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh objek yang ingin diteliti atau responden (Dhofir, 2000: 36).
  1. Metode Analisa Data
Dalam menganalisa data untuk penelitian korelasi ini penulis menggunakan tehnik pengumpulan data produk moment dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
r xy         = Koefisien korelasi ‘r’ product moment yang dicari
∑Xy     = Jumlah hasil kali dari X dan Y
∑X2      = Jumlah gejala X kecil kuadrat
∑y2       = Jumlah gejala Y kecil kuadrat
Dengan rumus ini dapat diketahui apakah pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN. (Dhofir, 2000: 72)
Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan paper ini terdiri dari lima bab dimana bab yang satu dengan bab yang lainnya saling berhubungan. Adapun kerangka pemikirannya sebagai berikut:
BAB I           : Membahas tentang Pendahuluan, yang menyangkut latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, alasan pemilihan judul, asumsi penelitian, hipotesis penelitian, ruang lingkup penelitian, batasan istilah dalam judul, metode penelitian, dan sistematika pembehasan.
BAB II          :   Membahas tentang Landasan Teori, yang menyangkut tinjauan teoritis tentang kecerdasan emosional, yang meliputi; pengertian kecerdasan emosional, pendapat dan pandangan tentang kecerdasan emosional, cara meningkatkan kecerdasan emosional dalam kehidupan sehari-hari, dan ciri-ciri orang memiliki kecerdasan emosional  dan kepribadian,  yang meliputi; pengertian, kenali diri kita, kepribadian yang mulia, dan menjadi pribadi yang berpengaruh, serta hubungan antara kecerdasan emosional dengan kepribadian.
BAB III         :  Membahas tentang Metodologi Penelitian, yang menyangkut metode pengumpulan data, metode analisa data dan cara menganalisa data.
BAB IV        : Membahas tentang Hasil Penelitian, yang menyangkut tahap persiapan dan pelaksanaan.
BAB IV        : Membahas tentang Diskusi dan Hasil Penelitian, yang menyangkut diskusi dan analisa hasi penelitian dan kelemahan-kelemahan penelitian.
BAB V         : Penutup, yang meliputi kesimpulan, saran, dan lampiran- lampiran.

LANDASAN TEORI
Kecerdasan Emosional
       1.    Pengertian kecerdasan emosional
Sebelum kita beranjak lebih dalam tentang masalah kecerdasan maka, alangkah baiknya kalau kita mengetahui terlabih dahulu apa itu kecerdasan. Kecerdasan adalah kumpulan kapasitas sesorang untuk bereaksi searah dengan tujuan, berfikir rasional, dan mengelolah lingkungan secara efektif dan efisien.
Psikologi Howard Gander adalah orang pertama yang menemukan sejenis kecerdasan untuk bisa memahami orang-orang lain, dan disebutnya sebagai kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligent).
Pada pertengahan tahun 1990, kecerdasan mulai dikenal secara luas dengan diterbitkannya buku karya Daniel Goleman: Emitional intelligent. Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional (emotional intellegent) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Goleman menggunakan ungkapan Howard Gander, kecerdasan emosi terdiri dari beberapa kecakapan diantaranya:
Intrapesonel intelligence dan interpersonal intelligence.
Intra intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan kita sendiri terdiri dari:
  1. Pertama kecerdasan diri meliputi: keadaan emosi diri, penilaian pribadi dan percaya diri.
  2. Kedua pengaturan diri meliputi: pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada, adaptif dan inovatif.
  3. Ketiga motivasi meliputi: dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis.
Sedangkan intrapersonal intelligence merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan orang lain:
  1. Pertama Empati meliputi: memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keagamaan dan kesadaran politis
  2. Kedua keterampilan sosial, meliputi: pengaruh, komonikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerja team. (Asnawi, 2005. www.formiskat.com.)
Pada intinya, kecerdasan emosional adalah kemampuan orang untuk memahami orang-orang disekitarnya, berinteraksi untuk mengembangkan empati, simpati dan untuk bisa bekerja sama. Menurut hasi penelitian tentang kecerdasan oleh Gay Kendrik, PhD dan Kate Ludeman, PhD, keduanya konsultan manajemen senior, kepala 800-an manajer perusahaan yang mereka tangani selama 25 tahun. Menurut mereka setidaknya 75% kesuksesan manusia lebih ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya (EQ) dan hanya 4% yang ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya (IQ). (Asnawi, 2005. www.formiskat.com.)
Secara leksikal, makna emosi dapat dirumuskan sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan prilaku.
      2. Pendapat dan pandangan tentang kecerdasan emosional
Menurut Brooks dan Emmert sebagaimana dikutip Dr Jalaludin Rakhmat tentang kecerdasan Emosional, individu yang memliki konsep positif dapat ditandai dengan lima hal: (1) ia yakin akan kemampuannya menyelesaikan masalah, (2) ia merasa setara dengan oramg lain, (3) ia menerima pujian tanpa rasa malu, (4) ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujuai oleh masyarakat, dan (5) ia mampu memperbaiki dirinya karena ia mampu mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha merubahnya. (Ar-Rasyidin, 2007.www.litagama.org)
Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan “Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang menusiawi. Kecerdasan emosi menurut pemilikan perasaan, untuk belajar mengikuti, menghargai perasaasn pada diri dan orang lain serta menaggapi dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.” (Ansari, 2004.www.pusatbahasa.depdiknas.go.id)
Daniel Goleman, dalam bukunya Emosional Intellegence (1994) menyatakan bahwa “konstribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya 25% dan sisanya yang 75% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional.” (Ubaydillah AN, 2004.www.e-psikologi.com)
Agustian (2006:61) mengungkapkan bahwa “Kecerdasan emosional adalah serangkaian kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk meraih kesuksesan hidup di dunia yang penuh dengan lika liku permasalahan sosial. IQ hanya berperan dalam kehidupan manusia dengan besaran maksimum 20%.”
Dari beberapa pendapat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kecerdasan emosional menurut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain untuk menggapainya dengan tepat, menerapkan dengan sfektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
3.    Meningkatkan kecerdasan emosional
Pakar psikologi Dr. Solovey membeerkan bagaimana mengembangkan keterampilan kecerdasan emosional kita, agar dapat mengenali dan mengembangkan kecerdasan emosi kita seperti:
  1. Mengenali emosi diri kesadaran diri, mengenali perasaan sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdsan emosional. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal yang pentingbagi pemahaman diri. Ketidakmampuan mencermati perasaan kita sesungguhnya menempatkan kita dalam lingkungan perasaan. Orang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah bagaikan orang pilot yang canggih mampu mengenali kepekaan lebih tinggih akan keadaan emosi yang dirasakan saat itu.
  2. Mengelolah emosi, menangani perasaan agar dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang tergantung pada kesadaran diri. Kemampuan untuk menghibur diri, melepaskan kecemasan kemurungan atau ketersinggungan, atau akibat-akibat yang muncul karena kegagalan keterampilan emosional dasar ini.
  3. Memotivasi diri, penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri serta ia mampu melakukan kreasi secara bebas. Pengendalian emosi seperti menahan diri terhadap suatu kepuasaan dan pengendalian dorongan hati sebagai landasan. Keberhasilan dalam berbagai bidang.
  4. Memahai emosi orang lain, kita sering mendengar kata empat, adalah kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran diri emosional, merupakan keterampilan bergaul atau berinteraksi dengan orang lain. Jika kkta diberikan kemampuan empati yang tinggi situasi demikian dapat mengarahkan pekerjaan yang cocok untuk individu seperti ini seperti bidang keperawatan, mengajar, penjualan dan manajemen.
  5. Membina hubungan, setelah kita melakukan identifikasi kemudian kita mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk dapat mengembangkan kcerdasan emosional yaitu dengan memelihara hubungan tersebut. Keterampilan membina hubungan merupakan bagian dari keterampilan sosial hal ini dapat menunjang kita dalam mengembangkan pergaulan. Hal ini dapat dilakukan dengan kita melakukan komonikasi.
  6. Berkomonikasi “dengan jiwa”, tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktulawan bicara untuk berbicara juga dengan demikian posisikan diri kita menjadio pendengar dan penanya yang baik dengan hal ini kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan oleh seseorang dengan reaksi atau penilaian. Ingat kita diberikan dua buah telinga dan satu mulut banyaklah mendengar sedikitlah berbicara dengan demikian kita mampu memahami apa yang orang lain inginkan, sehingga kita mampu memposisikan diri kita pada situasi dan kondiri yang tepat.
(Ansari, 2004. www.pusatbahasa.depdiknas.go.id)
4.    Ciri-ciri orang memiliki kecerdasan emosional
Dr Jalaluddin Rahkmat mengutip pernyataan Tony Buzan, pakar mengenai otak dari Amerika, menyebutkan bahwa ciri-ciri orang yang cerdas emosional itu diantaranya yaitu:
a)    Sukses dalam kehidupan
b)    Sukses dalam pekerjaan
c)    Mampu bekerjasama dengan orang lain
d)    Mampu mengendalikan emosi
e)    Dia juga biasanya pintar menarik hati oarang lain
f)     Bisa memehami sifat setiap orang dengan tepat
g)    Biasanya hafal nama-nama orang yang dikenalnya
h)   Mengetahui kesenangan dan ketidaksukaan orang lain
Orang cerdas secara emosional itu dalam tingkat yang negatif bisa memanipulasi orang tapi dalam tingkat yang positif bisa menjadi pemimpin yang baik. (Nirmala, 20006.www.satupaket.net)
Kepribadian
        1.    Pengertian kepribadian
Sedangkan apabila kita mencari pengertian kepribadian maka kita akan menemukan bahwa kepribadian itu berasal dari bahasa Latin yaitu Persona, yang berarti Mark (Topeng). Dalam hal ini mengapa kepribadian dikatakan topeng? Jawabannya sangat banyak, ada banyak pendapat yang mengungkapkan bahwa kepribadian itu adalah segala apapun yang ada di dalam jiwa seseorang, dan kepribadian yang ditampakkan oleh seseorang adalah agar sesuai dengan kebiasaan atau adat lingkungan sekitarnya.
Kepribadian menurut ilmu jiwa adalah gambaran tentang organisasi yang dinamis dari fisik dan psikis seseorang yang membentuk karakter yang unik dalam menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan secara linguistik, kepribadian memiliki pengertian yang beranika ragam dan sering digunakan dalam kontek yang berbeda-beda antara lain:
  1. Penampilan lahiriyah walaupun mungkin tidak sesuai dengan keadaan sekitarnya.
  2. Watak atau karakter, sifat atau ciri khusus yang membedakan seseorang dnegan orang lain.
  3. Individualiti atau kedirian wujud diri yang bersifat otonom dan unik dari setiap orang.
  4. Peran yang dimiliki seseorang dalam punggung kehidupan (Jauhari, 2005:128)
Kepribadian juga pada hakekatnya merupakan pusat dan topik utama dalam setiap kajian dan penelitian dalam jiwa manusia. Di dalam diri manusia juga terdapat unsur-unsur yang bersifat dinamis dan berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungannya. Unsur dinamis ini sangat berpengaruh kepada pembentukan kepribadian seseorang, bahkan jika unsur tersebut tidak langsung secara harmonis dan seimbang maka alkan timbul konflik-konflik psikologis atau penyakit jiwa yang berbahaya (Jauhari, 2005:127)
    2.    Kenali diri kita
Manusia itu unik, berbagai hal diluar dirinya ia perhatikan, dan ia pahami, bagaimana dengan hakekat dirinya sendiri? Terlalu sedikit diantara kita yang mau merenunginya, apalagi benar-benar berusaha untuk memahami, dan mengenalinya. Padahal, pemahaman itu sangat penting dalam menapaki kehidupan ini.
Dengan mengenal diri, kita akan mengetahui asal-asul kita, tujuan penciptaan kita, tujuan hidup dan cara-cara mencapainya, serta kemampuan dan keterbatasan kita. Apabila hal-hal tersebut telah dipahami, maka kita akn senantiasa terdorong untuk terus melakukan upaya-upaya perbaikan diri dan penyucian hati dalam rangaka mencapai ketenangan jiwa, kebahagiaan hidup dan akhirnya menuju ridha-Nya.
Ada banyak ayat Al-Qur’an yang merinci pentingnya ma’rifatun nafs, salah satu dari ayat tersebut terdapat di Surat Al-Hasyr, dimana Allah berfirman;
Artinya: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. 59:19)
Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa orang yang lupa terhadap Allah niscaya akan mengakibatkan orang itu sendiri lupa pada dirinya sehingga banyak pelanggaran yang dilakukan dalam hidupnya. Maka dari itu, kita dituntut untuk selalu mengingat Allah disetiap waktu dan tempat agar Allah membukan hati dan jalan pada kita.
Salah satu manfaat dari mengenal diri adalah memungkinkan seseorang berkenalan akrab dengan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakat dirinya dan dapat membantu seseorang dalam menjalani hidupnya.
Sebagai seorang muslim manfaat yang paling penting dari mengenal diri adalah mengetahui bahwa ciptaan Allah yang amat berharga, dan tidakmelihat dirinya semata-mata sekedar seperti hewan lain yang memiliki yang memiliki kebutuhan dasar untuk dipuaskan dan diperjuangkan. (Shomali, 2000:27)
3.    Kepribadian yang mulia
Semua orang pasti menginginkan memiliki kepribadian yang baik. Banyak tingkah laku dan cara yang mereka lakukan untuk mengwujudkannya. Disini kita akan membahas bagaimanah sih, kepribadian yang baik itu? Apa yang harus kita lakukan agar mendapat predikat seseorang yang berkepribadian mulia.
  1. Jadilah sosok yang  berbeda
Pribadi yang gemar ikut-ikutan adalah pribadi yang suka menempel dan lemah, pada hal di suatu pihak, islam membutuhkan sosok muslim yang berkepribadian kuat dan independen serta sosok pribadi yang istimewa dan lain dari pada yang lain.
Anda harus merasa bahwa anda sosok pribadi yang istimewa. Anda berbeda dengan orang lain. Anda memiliki kepribadian yang dapat menjadi kebanggaan bagi diri anda. Anda memiliki ciri khas tersendiri, anda memiliki pemikiran sendiri, anda tidak tunduk kepada pengaruh dari luar dan tidak tunduk pada orang lain.
Anda harus memiliki jalan hidup sendiri, jangan mengambil jalan hidup orang lain. Anda boleh mirip dengan orang lain dalam hal kebaikan dan ketaatan (kepada Allah). (Abdillah, 2006: 36)
2. Mengevaluasi diri
Banyak orang yang sudah bisa merencanakan sesuatu, mengerjakan sesuatu berdasarkan rencana tersebut, namun ia belum juga berhasil mendapatkan kesuksesan. Apa pasal? Ternyata, ia jarang melakukan evaluasi. Padahal, dengan evaluasi itulah kita bias mendapatkan jawaban, apakah yang kita lakukan selama ini tepat atau tidak. Apakah target-target yang kita buat bias kita capai atau tidak. Apakah cara strategi yang kita buat cukup efektif, masalah apa yang membuat target kita tidak tercapai, dan bagaimanakah langkah-langkah agar kita bias menyingkirkan masalah tersebut. (Afra, 2007: 128)
3. Luruskan pikiran
Ingatlah bahwa kedudukan seseorang bukanlah penentu dari kebahagiaan dan kesenangan seseorang. Hal yang menentukan semua itu adalah dirinya, akalnya dan pikirannya. Anda dapat meluruskan pikiran anda dengan cara yang akan member anda kebahagiaan, serta menjadikan anda mampu mengatasi kecemasan dan kesusahan. Dengan begitu, anda akan hidup senang dan bahagia, meskipun diliputio dengan masalah. (Abdillah, 2006: 17)
4. Memotivasi diri
Motivasi adalah alasan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Paling sakti adalah motivasi untuk mendapatkan keridhaan Allah. (Afifah, 2007: 115)
Jika kita mengikhlaskan niat untuk Allah semata. Kekuatan itu akan muncul sebagai pertolongan Allah kepada kita. Selain itu kita boleh-boleh saja menjadikan suatu hal sebagai landasan motivasi kita, asalkan masih dalam kerangka menggapai keridoan Allah. Misalnya kita hidup dalam kemiskinan, sehingga kita termotifasi untuk belajar mati-matian dengan harapan kita bisa mendapatkan biasiswa yang akan meringankan beban orang tua. (Afifah, 2007: 115)
5. Ridha dengan takdir tuhan
Banyak orang yang mengeluh karena diliputi oleh perasaan cemas. Sebenarnya inti dari permasalaha mereka adalah karena mereka tidak ridha atau tidak menerima takdir Allah atau bias jadi karena mereka tidak bias menyesuaikan diri dengan suasana baru. Ketidakmampuan menyesuaikan dengan suasana baru setelah trejadinya beberapa peristiwa atau musibah adalah hal biasa yang dialami oleh sebagian orang yang lemah imannya. Hal ini sangat berbahaya sekali karena dapat mengarah kepada penyakit jiwa.
Agama kita (Islam) telah menjelaskan kepada kita bahwa cobaan dengan beberapa peristiwa adalah suatu karunia. Kita harus menyikapinya dengan baik, salah satunya adalah dengan bersabar dalam menghadapinya, ridha dengan ketentuan-ketentuan yang Allah berikan dan tidak khawatir ketika terjadi atau mendapat musibah.
Seorang Muslim yang benar adalah sosok yang mampu menanggung musibah yang dialaminya dengan hati yang teguh dengan keyakinan yang mendalam, dan kesabaran yang baik. (Abdillah, 2006: 76)
6. Berbuat kepada baik orang lain
Pakar kejiwaan menyatakan, “Anda akan merasa bahagia apabila anda melihat orang lain bahagia, anda akan merasa bahagia bila anda menjadi penyebab dari keahagiaan orang lain.” (Abdillah, 2006: 82)
Allah akan memberikan rizki kepada orang yang gemar membantu orang lain. Allah akan memberikan pertolongan kepada orang saudaranya. (Abdillah, 2006: 85)
4.    Menjadi pribadi berpengaruh
Kita ketahui bahwa semua orang ingin mendapat pengeruh ataupun perhatian darin orang lain. Sebagaimana kodratnya manusia adalah makhluk social yang tidak lepas dari orang lain yang ada disekitrnya, yang memberikan pengaruh kepada orang lain dan terpengaruh dari orang lain baik itu pengaruh positif ataupun pengaruh negatif.  (Al-Uqshari, 2005:1)
  1. Kemahiran bagi kepribadian yang berpengaruh
Pribadi yang berpengaruh mempunyai kelebihan dan kemmpuan tertentu yang semuanya dapat dicapai dengan latihan. Karena, semua manusia mampu untuk memiliki potensi dan kemampuan tersebut. Beberapa kemahiran yang dimiliki oleh pribadi yang berpengaruh:
  1. Pribadi yang berpengaruh secara positif terhadap orang lain itu dapat teris melihat seluruh perkara, tindakan, dan prilaku kemanusiaan dari sisi yang lebih umum.
  2. Menguasai kemmpuan-kemampuan tertentu yang berkaitan dengan bidang tempat bekerjanya pribadi berpengaruh itu.
  3. Kemampuan untuk berkreasi secara umum dengan mengadakan prangkat-prangkat baru dan lebih baik untuk menyelesaikan kerja secara khusus.
Apabila ketiga kemahiran ini dimiliki oleh seorang individu akan dapat menghantarkan orang tersebut menjadi sosok yang berpengaruh secara nyata terhadap orang lain. (Al-Uqshari, 2005:62)
2. Berkomonikasi dan berinteraksi dengan orang lain
Keberhasilan seseorang dalam menjalani relasi dengan orang lain adalah bagaimana ia bias menyelam kedalam jiwa orang tersebut, tergantung sejauhmana ia mampu mempengaruhi orang tersebut, dan bersedia untuk dipengaruhi olehnya. (Al-Uqshari, 2005:73)
Komonikasi sangatlah penting dalam menjalani hubungan antar sesama. Interaksi dan komonikasi yang sukses membutuhkan lebih dari sekedar bicara, bahasa, pola piker, pengalaman, kelas social dan cara pandang terhadap sesuatu. Komonikasi sendiri berarti aktivitas yang berhubungan dengan segala kondisi yang mempunyai makna. (Al-Uqshari, 2005:74)
Beberapa fungsi dari komonikasi yaitu:
  1. Memberikan makna atau artu kehidupan
  2. Sarana menciptakan hubungan dengan orang lain
  3. Saran bagi orang lain untuk mneciptakan hubungan dengankita
  4. Sebuah sarana yang akan memberikan kita berbagai makna pikiran untuk memecahkan berbagai problem yang kita hadapi. (Al-Uqshari, 2005:1)
  5. Bagaimana agar orang lain bahagia?
Proses saling mempengaruhi antar kita dan orang lain tidak boleh keluar dari batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh masyarakat, nilai-nilai agama, budaya, adat dan kebiasaan yang tidak boleh dilanggar. Agar seseorang memiliki perasaan positif atas tingkah laku dan prilaku yang kita lakukan. (Al-Uqshari, 2005:282)
Apa sih yang membuat kita bahagia dan kita ingin agar orang lain merasakan kebahagiaan yang sama? Apakah cukup hanya dengan mencitai orang lain? Atau, cukup dengan sikap hormat orang lain terhadap anda dan penghargaan yang mereka berikan kepada anda? Pada dasarnya, jika ingin meresa senang dan bahagia memang tidak dibutuhkan sebab-sebab tertentu yang harus ada atau terjadi. Bahkan, sekarang pun anda bias merasa senang dan bahagia tanpa ada suatu sebab apapun, kecuali anda hanya ingin meresa bahagia begitu saja. (Al-Uqshari, 2005:285)
Dengan cara yang sama anda bisa mempengaruhi orang lain dan membuat mereka merasa senang dan bahgia, selain mereka juga harus mempunyai keinginan dalam dirinya untuk menjadi orang yang merasa senang dan bahagia. (Al-Uqshari, 2005:288)
3. Keberanian
Berani bisa dijadikan salah satu senjata untuk mendapat pengaruh dari orang lain, dalam artian berani disini adalah keberanian dalam berfikir, berpendapat dan bertindak. Seperti tidak takut menyampaikan ide-ide, bagaimana agar ide tersebut diterima oleh orang lain. (Al-Uqshari, 2005:224)
Seorang pemberani yang memiliki kepribadian yang menarik dan berpengaruh selalu meyakini dua hal, yaitu “perubahan” dan ”realitas.” Hal ini berarti bahwa kepribadian yang berani adalah kepribadian yang selalu bersikap realistis. Pikiran yang dimiliki oleh seseorang yang berkepribadian yang berani dan berpengaruh bukanlah pikiran yang mengambang, akan tetapi berlandaskan pada realitas yang kehidupan yang ada.
Oleh karena itu, janganlah heran kalau pengaruh yang dimunculkan oleh orang yang berkepribadian seperti ini jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan jenis kepribadian lainnya. (Al-Uqshari, 2005:227)
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Kepribadian
Setelah uraian singkat di atas, agaknya telah jelaslah bahwa kecerdasan emosional dan spiritual penting untuk membentuk kepribadian seseorang. Karena dengan kecerdasan tersebut serta ditunjang dengan kecerdasan yang lainnya, maka kita dapat meningkatkan kualitas kepribadian dengan berbagai keterampilan yang telah kita miliki. Sehingga kita bisa hidup di dunia ini dengan penuh leluasa dan bahagia.
Menurut hasi penelitian tentang kecerdasan oleh Gay Kendrik, PhD dan Kate Ludeman, PhD, keduanya konsultan manajemen senior, kepala 800-an manajer perusahaan yang mereka tangani selama 25 tahun. Menurut mereka setidaknya 75% kesuksesan manusia lebih ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya (EQ) dan hanya 4% yang ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya (IQ). (Asnawi, 2005. www.formiskat.com. )
Daniel Goleman, dalam bukunya Emosional Intellegence (1994) menyatakan bahwa “konstribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya 25% dan sisanya yang 75% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional.” (Ubaydillah AN, 2004.www.e-psikologi.com)
Oleh karena itu, kecerdasan emosional merupakan hal yang harus dimiliki oleh setiap insan untuk membentuk kepribadian yang berkualitas dan meningkatkannya secara terus-menerus dalm kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa dikatakan sukses dan berhasil dalam dalam kehidupan. Sebab orang yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektualnya sulit baginya untuk mendapatkan kesuksesan dan keberhasilan hidup.

METODE PENELITIAN
Metode Pengumpulan Data
Angket atau Quisioner
Angket atau quisioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mengumpulkan dan mengukur data dari responden. (Dhofir, 2000:49)
Peneliti menggunakan metode ini dalam pengumpulan data, karena lebih memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data dari penelitian ini, serta cocok dengan kondisi yang ada disini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan tertulis kepada responden yang telah peneliti pilih.
Metode Analisa Data
Populasi
Yaitu keseluruhan subjek penelitian yang mencakup semua elemen dan unsur-unsurnya (Dhofir, 2000:36), yang terdiri dari 24 orang anggota Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN.
Melihat jumlah responden yang peneliti teliti, maka peneliti menggunakan metode populasi dalam pengumpulan data ini, karena jumlah responden dalam penelitian ini kurang dari 100 atau tepatnya berjumlah 24 orang, maka peneliti menggunakan metode populasi untuk memperoleh data dari responden.
Cara Menganalisa Data
Dalam proses penelitian ini, peneliti dalam metode pembahasan akan menggunakan rumus korelasi Product moment, untuk menghitung hasil yang diperoleh dari quisioner atau angket tersebut.
Rumus :
Keterangan :
rXY        = Angka indeksi korelasi “r” produck moment
Σxy         = Jumlah hasil kali deviasi skor “x” dan deviasi “y”
ΣX          = Jumlah deviasi skor “x” setelah lebih dahulu dikuadratkan
ΣY          = Jumlah deviasi skor “y” setelah lebih dahulu dikuadratkan
Sebelum rumus digunakan terlebih dahulu dibuat tabel perhitungan, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)    Menjumlah subjek penelitian (N)
b)    Menjumlah skor “X”
c)    Menjumlah skor “Y”
d)    Menghitung mean variable “x”
e)    Menghitung mean variable “y”
f)     Menjumlah skor “x”
g)    Menjumlah skor “y”
h)   Mengkuadratkan seluruh deviasi “x”
i)     Mengkuadratkan seluruh deviasi “y”
j)      Mengalikan deviasi “x” dan deviasi “y”

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

Paparan Data
  1. Tahap Persiapan
Dalam persiapan penelitian ini, peneliti mengadakan beberapa persiapan-persiapan yang matang yaitu:
  1. Pengajuan judul paper kepada Ust. H. Moh. Bakri Sholihin, S.Pd.I, selaku pembimbing I pada tanggal 13 April 2008 M.
  2. Menyusun proposal penelitian dari judul yang telah disetujui oleh pembimbing I yaitu; “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kepribadian Santri Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN”, pada tanggal 23 Mei 2008 M. Akan tetapi, karena terbentur oleh acara Niha’ie lainnya, akhirnya revisi proposal penelitian tersebut baru selesai 13 Juni 2008 M.
  3. Membuat instrumen pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data berupa angket terbuka dengan alasan agar hasil jawaban dari responden yang ada dapat dijadikan tolak ukur terhadap penelitian ini. Maka, akhirnya pembuatan instrumen pengumpulan data tersebut baru selesai pada tanggal 3 Agustus 2008 M.
  4. Tahap Pelaksanaan
Setelah melakukan persiapan, penulis langsung melangkah kepada persiapan pada berikutnya, yaitu masa pelaksanaan, diantaranya:
  1. Menyebarkan angket kepada responden, yaitu Anggota Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN dengan jumlah responden 24 orang.
  2. Mengumpulkan data-data yang diperoleh dari responden, dengan memberikan penilian pada setiap nomor.
  3. Obyek Penelitian
Obyek penelitian kali ini, diambil dari seluruh Anggota Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN sebanyak 24 orang.
Temuan Penelitian
Untuk mendapatkan data yang kongkrit penelitian ini, maka peneliti menyebarkan angket kepada responden yang berjumlah 24 orang, kemudian setelah terkumpul angket tersebut, maka setiap item diberi skor penilaian. Adapun ketentuan skor dari setiap item pertanyaan adalah sebagai berikut:
  1. Jawaban a = diberi skor 3 atau baik
  2. Jawaban b = diberi skor 2 atau cukup
  3. Jawaban c = diberi skor 1 atau kurang

Tabel I
Nama-nama responden 
Anggota Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN
Tahun 2008 M
No
Nama
Kelas
Alamat
01
Ikhwan Amali
VI A
Pasongsongan
02
Syahrul Sani AL
VI A
Suka Bumi
03
Abd. Mu’iz Hidayatullah
VI A
Robatal
04
Ach. Zainurrozi
VI A
Batang-batang
05
M. Masruhin
VI A
Pamekasan
06
Adam Malik
VI A
Palembang
07
Rijalul Fikri
VI A
Masa Lembu
08
Saiful Bahri
VI A
Surabaya
09
Zainul Hasan
VI A
Pamekasan
10
Romal M
VI A
Sidoarjo
11
Iskandar Z
VI A
Pekandangan
12
Romi Maulidi
VI A
Arosbaya
13
Edy Sugianto
VI A
Gili-Genting
14
Arief Dharma
VI A
Lenteng
15
Saiful Arief
VI A
Ambunten
16
M. Faishal A
VI A
Batank-batank
17
Musthofa Hana
VI A
Arosbaya
18
Ubaidillah
VI A
Nganjuk
19
Moh. Hasan
VI A
Gili-Genting
20
Kholid el-Qodrie
VI A
Bangkalan
21
Yoga Khoiri Ali
VI A
Pamekasan Kota
22
Yusrianto
VI A
Lenteng
23
Rifqil Anam
VI A
Semarang
24
Cecep MH
VI A
Jawa Barat

Tabel II
Nilai Variabel X
Tentang Kecerdasan Emosional
No
Variabel X
Jumlah
1
2
3
4
5
01
3
3
3
3
2
14
02
3
3
3
2
2
13
03
3
3
3
3
2
14
04
3
3
3
3
3
15
05
3
3
3
2
3
14
06
3
3
3
3
3
15
07
3
3
3
3
3
15
08
3
3
3
3
2
14
09
3
3
3
3
2
14
10
3
3
3
3
2
14
11
3
3
3
3
3
15
12
3
3
3
2
3
14
13
3
3
2
2
2
12
14
3
3
3
3
2
14
15
2
2
2
2
2
10
16
3
3
2
3
3
14
17
3
3
3
3
3
15
18
3
3
3
2
2
13
19
2
3
2
2
3
13
20
3
3
3
3
2
14
21
3
3
3
3
2
14
22
3
3
3
2
3
14
23
3
3
2
2
2
12
24
3
3
3
3
3
15
Total
341

Tabel III
Nilai Variabel Y
Tentang Kepribadian
No
Variabel Y
Jumlah
1
2
3
4
5
01
3
3
3
3
3
15
02
3
3
3
3
2
14
03
3
3
3
3
3
15
04
3
3
2
3
3
14
05
3
3
3
3
3
15
06
3
3
3
3
3
15
07
3
3
3
3
3
15
08
3
3
3
3
3
15
09
3
3
3
3
2
14
10
3
3
3
3
3
15
11
3
3
3
3
3
15
12
3
3
2
3
2
13
13
3
3
2
3
2
13
14
3
3
3
3
2
14
15
3
3
3
3
3
15
16
3
3
3
3
3
15
17
3
3
3
3
3
15
18
3
3
2
2
2
12
19
3
2
2
2
3
12
20
3
3
3
3
2
14
21
3
3
3
3
3
15
22
3
3
3
3
3
15
23
3
3
2
3
2
13
24
3
3
3
3
3
15
Total
343

Tabel IV
Tabel Perhitungan Korelasi
Variabel X dan Variabel Y
Perhitungan variabel X dan variabel Y
No
X
Y
x
y
x2
y2
xy
01
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
02
13
14
-1,2
-0,3
1,44
0,9
0,36
03
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
04
15
14
0,8
-0,3
0,64
0,9
-0,24
05
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
06
15
15
0,8
0,7
0,64
0,49
0,56
07
15
15
0,8
0,7
0,64
0,49
0,56
08
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
09
14
14
-0,2
-0,3
0,04
0,9
0,06
10
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
11
15
15
0,8
0,7
0,64
0,49
0,56
12
14
13
-0,2
-1,3
0,04
1,69
0,26
13
12
13
-2,2
-1,3
4,84
1,69
2,86
14
14
14
-0,2
-0,3
0,04
0,9
0,06
15
10
15
-4,2
0,7
17,64
0,49
-2,94
16
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
17
15
15
0,8
0,7
0,64
0,49
0,56
18
13
12
-1,2
-2,3
1,44
5,29
2,76
19
13
12
-1,2
-2,3
1,44
5,29
2,76
20
14
14
-0,2
-0,3
0,04
0,9
0,06
21
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
22
14
15
-0,2
0,7
0,04
0,49
-0,14
23
12
13
-2,2
-1,3
4,84
1,69
2,86
24
15
15
0,8
0,7
0,64
0,49
0,56
Jml
341
343
-17,2
-14,2
35,96
27,01
10,54
N = 24
X = 341        = 14,20
N     24   
            Y = 343        = 14,30
N     24
            x2 = 35,96
            y2 = 27,01
            xy= 10,54



=              10,54
                        √ (35,96) (27,01)
                    =              10,54
                               √ 971,279
                    = 10,54
                                  31, 16
                    = 0,338  
Jadi hasil dari: rxy = 0,338
Dari hasil data tersebut, setelah dikonsultasikan dengan r tabel ternyata hasil yang diperoleh 0,338, hasil angket dan hasil tes tersebut di atas taraf penerimaan.
Maka dengan demikian hipotesa kerja (H1) menyatakan ada pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN. Diterima. 
Sedangkan hipotesa Nihil (H0) menyatakan tidak ada pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN. Ditolak.
Hal ini menyatakan bahwa pengaruh kecerdasan emosional tual terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN adalah rendah. Kemudian untuk mengetahui besar kecilnya dari dua variable interpretasi sebagai berikut:
TABEL V
TABEL UKURAN KONSERVATIF
NO
SKOR INTERPRETASI
1
0.800 s/d 1.00 korelasi tinggi
2
0.600 s/d 0.800 korelasi cukup
3
0.400 s/d 0.600 korelasi agak rendah
4
0.200 s/d 0.400 korelasi rendah
5
0.000 s/d 0.200 korelasi rendah sekali
Sumber: Dhofir, 2003: 75
Akan tetapi, setelah melihat tabel harga kritik dari r kerja dengan nilai 0,338 berada di rentang antara 0.200 s/d 0.400 dengan interprestasi rendah sekali. Jadi, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kepribadian Santri Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN ada dengan nilai interpretasi rendah.

DISKUSI DAN HASIL PENELITIAN
Diskusi dan Analisa Hasil Penelitian
Setelah melalui penelitian yang cukup lama terhadap santri kelas VI A TMI AL-AMIEN PRENDUAN tentang pengaruh kegiatan membaca terhadap peningkatan kreativitas menulis. Maka, dengan melihat hasil skor akhir korelasi product moment, dengan hasil akhir 0,338 disesuaikan dengan tabel konservatif termasuk korelasi rendah.
Dengan demikian, hipotesa kerja (H1), yang menyatakan bahwa ada Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI AL-AMIEN PRENDUAN ditolak, sedangkan hipotesa nihil (H0) yang menyatakan tidak ada hubungan antara pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI AL-AMIEN PRENDUAN diterima, berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan nilai konservatif, dan hasil perbandingan dengan harga kritik product moment.
Kelemahan-kelemahan Penelitian
Setelah peneliti melakukan penelitian dengan menyebarkan angket kepada responden dan menganalisa dari angket tersebut, maka dari hasil penelitian itu peneliti menemukan beberapa kelemahan dalam penelitian ini, di antaranya adalah:
  1. Ada beberapa kesalahan yang peneliti lakukan, sehubungan dengan kekurangtahuan peneliti atau kelalaian, sehingga masih direvisi kembali.
  2. Peneliti kurang teliti dalam penghitungan skor angket, sehingga terjadi beberapa kali perhitungan yang menyebabkan keterlambatan perolehan nilai yang valid.
  3. Adanya responden yang kurang memahami hakikat angket yang sebenarnya, sehingga mengisinya dengan sembarangan.
  4. Rendahnya korelasi yang ada, disebabkan karena sedikitnya jumlah responden yang diteliti dan kurangnya jumlah pertanyaan yang disediakan oleh peneliti.
Kesimpulan
Setelah membahas panjang lebar tentang Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN. Maka dalam bab ini peneliti akan memberikan beberapa kesimpulan dari akhir penulisan karya ilmiah ini, antara lain :
  1. Ada Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kepribadian santri kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN tahun 2008.
  2. Bahwa kecerdasan emosional itu memiliki dampak yang rendah Terhadap Kepribadian Santri Kelas VI A TMI Putra AL-AMIEN PRENDUAN tahun 2008 dengan skor 0,338.
Saran-saran
  1. Kepada peneliti yang akan datang untuk lebih memperbanyak soal yang dibagikan kepada responden.
  2. Kepada panitia niha’ie untuk lebih memperluas area penelitian.
  3. Kepada Direktur TMI untuk menghargai dan memotivasi anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi.

0 komentar:

Posting Komentar