Rabu, 24 Juli 2013

Menela’ah lebiih jauh tentang Muhkam dan Mutasyabih

PENGERTIAN MUHKAM DAN MUTASYABIH
         Muhkam berasal dari kata ihkam yang bearti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Sedangkan secara terminologi muhkam berarti ayat-ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain. Pendapat lain muhkam adalah susunan lafadz Al-Qur’an dan keindahan nadamnya, sungguh sangat sempurna tidak ada sedikitpun terdapat kelemahan padanya baik dalam segi lafalnya maupun dari segi maknanya. (Teungku: 169)
Contoh surat al-Baqarah ayat 83:
Artimya:“Dan ketika kami mengambil janji dari anak-anak Israel: tidak akan menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikan kepada Ibu, Bapak dan kerabat dekat dan anak-anak-piatu dan orang- oarng miskin, dan ucapkanlah kata yang baik kepada manusia, dan kerjakanlah sembahyang dan bayarlah zakat, kemudian itu kamu berpaling kecuali sebagian kecil dari padamu dan kamu tidak mengambil perduli”
Kata mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal. Sedangkan secara terminologi mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelas maksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya, atau maknanya yang tersembunyi, dan memerlukan keterangan tertentu, atau Allah yang mengetahuinya.
Contoh: Surat Thahaa Ayat 5
Artinya : (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy”  Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam ? Beliau menjawab:   Bersemayam menurut bahasa telah diketahui artinya, hakikatnya tidak diketahui, iman kepadanya hukumnya wajib dan mempertanyakannya adalah bid’ah”.
Menurut Al-Zarqani, ayat-ayat Mutasyabih dapat dibagi 3 ( tiga ) macam :
  1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hari kiamat, hal-hal gaib, hakikat dan sifat-sifat zat Allah. Contoh dalam surat Al-An’am ayat 59 : “Dan pada sisi allah kunci-kunci   semua yang gaib, tak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri.
  2. Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat : Mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutannya, dan seumpamanya. Contoh surat An-Nisa’ ayat 3 : Artinya : “dan jika kamu takut tidak adakn dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita”.
  3. Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para Ulama tertentu dan bukan semua Ulama. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati seseorang yang jernih jiwanya dan mujahid. Sebagai mana diisyaratkan oleh Nabi dengan do’anya bagi Ibnu Abbas : Artinya :“ Ya Tuhanku, jadikanlah seseorang yang paham dalam agama, dan ajarkanlah kepada takwil”.

0 komentar:

Posting Komentar