Rabu, 24 Juli 2013

Kalimat Efektif dan Cara Mengembangkannya

Sebelum mengenal lebih jauh tentang kalaimat efektif maka, kita harus mengetahui terlebih dahulu pengertian kalimat itu sendiri. Menurut Zainal Arifin dalam bukunya Cermat Berbahasa Indonesia, kalimat merupakan satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan biasanyan diucapakan dengan suara naik, turun, dan keras, serta lemah lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisannya kalimat berhuruf latin dan dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).

Adapun yang dimaksud dengan kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis terhadap pembacanya. Untuk itu, supaya kalimat dapat memberi informasi kepada pembaca secara tepat dan akurat seperti yang diharapkan oleh penulis, maka terdapat beberapa ciri-ciri yang dikandung oleh kalimat efektif yaitu; kesepadanan, kepararelan/kesejajaran, ketegasan, kehematan, kecermatan, kepaduan dan kelogisan.

Ciri-ciri Kalimat Efektif
  1. 1.    Kesepadanan
Kesepadanan ialah keseimbangan atau keserasian antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagagsan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Beberapa ciri-ciri kesepadanan dalam kalimat, yaitu;
  1. Kalimat itu tidak memiliki subyek dan predikat dengan jelas.
Artinya, ketidakjelasan subyek dan predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subyek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan  di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut dan sebagainya didepan subyek.
Contoh:
a)    Bagi semua mahasiswa UMM wajib shalat lima waktu (salah)
b)    Semua mahasiswa UMM wajib shalat lima waktu (benar)
  1. Tidak terdapat subyek ganda.
Contoh:
a)    Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa menggunakan data diskriptif (salah)
b)    Dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa menggunakan data diskriptif (benar)


  1. Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Artinya, kongjungsi intrakalimat ialah kata penghubung yang menghubungkan kata dengan kata-kata dalam sebuah frase atau menghubungkan klausa dengan klausa di dalam sebuah kalimat.
Contoh:
a)    Saya bangun tidur kesiangan. Sehingga terlambat masuk kuliah (salah)
b)    Saya bagun tidur kesiangan sehingga terlambat masuk kuliah (benar)
  1. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
a)    Gedung kuliah bersama II UMM yang menjulang tinggi
b)    Obama adalah orang yang memimpin Negara adidaya
  1. 2.    Keparalelan atau kesejajaran
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat tersebut. Maksudnya, kalau bentuk pertama menggunkan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina. Tetapi, kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
a)    Biaya produksi dibekukan atau kenaikan secara derastis (salah)
b)    Biaya produksi dibekukan atau dinaikkan secara derastis (benar)
  1. 3.    Ketegasan atau Penekanan
Yang dimaksud dengan ketegasan adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Artinya, dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat tersebut memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Adapun cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat adalah sebagai berikut;
  1. Meletakkan kata yang ditonjolkan di depan kalimat (di awal katamat).
Contoh:
a)    Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakan lagi soal ini (salah)
b)    Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan pada kesempatan lain (benar)
  1. Membuat urutan kata  kerja yang bertahap (logis).
Urutan kata yang logis dapat disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang semakin lama makin penting atau menggambarkan suatu proses.
Contoh:
a)    Bukan sejam, semenit, atau sedetik, tetapi berjuta-juta waktu, telah kita buang sia-sia (salah)
b)    Bukan sedetik, semenit, atau sejam, tetapi berjuta-juta waktu, telah kita buang sia-sia  (benar)
  1. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Repetisi merupakan pengulangan kata pada kalimat yang dianggap penting.
Contoh:
Saya suka akan kepandaian dia, saya suka akan kebijaksanaan dia

  1. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tadak malas dang curang, tetapi rajin dan jujur
  1. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan)
Contoh:
Saudaralah yang harus bertanggungjawab
  1. 4.    Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat dalam mempergunakan kata, frase, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Artinya, penghematan kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penghematan terhadap kata adalah sebagai berikut:
  1. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subyek.
Contoh;
Karena Pak Rektor tidak diundang, beliau tidak datang (Salah)
Karena  tidak diundang, Beliau tidak datang (Benar)
  1. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian subordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
Mereka turun kebawa karena ada kepentingan di Tu Fakultas
  1. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh;
a)    Pak Dekan hanya menyampaikan pesan-pesanya saja (salah)
b)    Pak Dekan hanya menyampaikan pesan-pesanya (benar)
  1. penghematan kaimat dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
a)    Para tamu-tamu undangan berdatangan ke pesta pernikahan Ani Sulastri (salah)
b)    Para tamu undangan berdatangan ke pesta pernikahan Ani Sulastri (benar)
  1. 5.    Kecermatan
Pengertian kecermatan dalam kalimat efektif merupakan kaliamat yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda, dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
a)    Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang terkenal itu meraih medali emas di Kejuaraan Olimpiade Akuntansi se-Indonesia
  1. 6.    Kepaduan
Merupakan kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.
a)    Upacara adat merupakan rangklaian tindakan yang ditata oleh adat yang berlaku, yang berhubungan dnegan berbagai peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.

  1. 7.    Kelogisan
Merupakan ide kalimat itu diterima oleh akal dan sesuai dengan ejaan yang berlaku. Hal ini, bisa dilihat dlam penggunaan kalimat dan konteks pembicaraan.
Contoh:
a)    Waktu dan tempat kami persilakan (logis)
b)    Bapak Menteri kami persilakan (Tadak logis)

Beberapa kesalahan dalam penggunaan kalimat sehingga kalimat tidak efektif
  1. Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat :
Cohtoh:
Pada era zaman  modern ini teknologi berkembang sangat pesat.
(Pada zaman modern ini teknologi berkembang sangat pesat.)
2.  Penggunaan kata berlebih yang ‘mengganggu’ struktur kalimat.
      Contoh:
Menurut berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah.
(Berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah. / Menurut berita yang saya dengar, kurikulum akan segera diubah.)
3.  Penggunaan imbuhan yang kacau.
      Contoh:
            Dalam pelajaran BI mengajarkan juga teori apresiasi puisi.
(Dalam pelajaran BI diajarkan juga teori apresiasi puisi. / Pelajaran BI mengajarkan juga apresiasi puisi.)
4.  Kalimat tak selesai.
Contoh:
Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial yang selalu ingin berinteraksi.
(Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial, selalu ingin berinteraksi.)
5.  Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku.
Contoh:
Pertemuan itu berhasil menelorkan ide-ide cemerlang.
(Pertemuan itu telah menelurkan ide-ide cemerlang.)
6.  Penggunaan tidak tepat kata “di mana” dan “yang mana”.
Contoh:
Manusia membutuhkan makanan yang mana makanan itu harus mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh.
(Manusia membutuhkan makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh.)
7.   Penggunaan kata ‘daripada’ yang tidak tepat.
Contoh:
Seorang pun tidak ada yang bisa menghindar daripada pengawasannya.
(Seorang pun tidak ada yang bisa menghindar dari pengawasannya.)


8.   Pilihan kata yang tidak tepat.
Contoh:
Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu untuk berbincang bincang dengan masyarakat.
(Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan masyarakat.)

  1. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti.
      Contoh:
            Sopir Bus Santosa yang Masuk Jurang Melarikan Diri
Judul berita di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang dimaksud Santosa? Nama sopir atau nama bus? Yang masuk jurang busnya atau sopirnya?
(Bus Santoso Masuk Jurang, Sopirnya Melarikan Diri)
  1. Pengulangan kata yang tidak perlu.
Contoh:
Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun.
(Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku.)
  1. Kata ‘kalau’ yang dipakai secara salah.
      Contoh:
Dokter itu mengatakan kalau penyakit AIDS sangat berbahaya.
(Dokter itu mengatakan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya.)

Cara mengembangkan kalimat efektif
  1. 1.    Menggunakan bahasa yang tepat, artinya dalam membuat kalimat diharuskan memnggunakan kata-kata yang tepat, mudah dipahami pembaca dan informatif.
  2. 2.    Menggunakan bahasa baku. Sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Mendiknas dalam EYD penulisan karya ilmiah harus menggunakan kata baku sesuai dengan perkembangannya (bukan bahasa percakapan sehari-hari).
  3. 3.    Membentuk kalimat yang tetatur dan tidak berbelit-belit, artinya kalimat yang dibentuk menjelaskan sesuai dengan tujuan yang ingin disampaikan dan tidak mempersulit pemahaman pembaca.
  4. 4.    Menggunakan makna tunggal. Artinya kata yang digunakan dalam membentuk kalimat efektif diharuskan menggunakan makna tunggal, bukan makana ganda sehingga tidak membuat pembaca bingung, tidak tahu maksud yang disampaikan.
  5. 5.    Mengikuti peraturan EYD yang telah disempurnakan.


Daftar Pustaka
Arifin, Zainal. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: AKAPRESS
Tim Dosen. 2009. Bahasa Indonesia untuk Karangan Ilmiah. Malang: UMM Press
http//www.google.com

0 komentar:

Posting Komentar