Rabu, 24 Juli 2013

BARU SADAR KALAU BANGSA KU SEPERTI INI

Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur keperhasilan suatu bangsa, karena dunia pendidikanlah yang melakukan pengkaderan generasi-generasi bangsa Indonesia, mulai Taman Kanak-Kanak (TM) atau Raudatul Athfal, Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtida’iyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah ‘Aliyah (MA) dan sampai Perguruan Tinggi atau Jami’ah. Semua itu merupakan instrument yang menghantarkan generasi bangsa kedepan. Model pembelajaran dikemas dengan sedemikian rupa baik mulai pelajaran moral, agama, keterampilan dan bahkan nilai-nilai kebangsaan yang terus dikembangkan. Sistem pendidikan yang tiada hentinya melakukan pembenahan semata-mata untuk meningkatkatkan kualitas SDM generasi bangsa kedepan.

Munculnya lembaga-lembaga pendidikan diberbagai pelosok desa sampai diperbukitan sana tidak lain untuk meratakan tingkat pendidikan anak bangsa. Peningkatan dana APBN khusus pendidikan terus menyulang sebungan dengan capaian yang diharapkan oleh beberapa petinggi negeri ini khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Ilmuan barat mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah Negara yang memiliki kualitas SDM terpandai di Dunia. Hal tersebut memang terbukti dengan bebrbagai prestasi yang disumbangkan anak bangsa tanpa tanda jasa (konon) seperti Juara Lomba matematika, fisika, Kimia, Robot dll., atau para senior BJ. Habibie yang mengilustrasikan terbentuknya sebuah pesawat, Sri Mulyani dalam dunia ekonomi serta para pahlawan bangsa yang saat ini menghantarkan Indonesia pada dunia Internasional. Kecerdasan mereka bisa dibilang diatas rata-rata manusia biasa, usaha yang mereka lakukanpun juga merupakan hal yang luar biasa, kerja keras untuk menggapai impian hidupnya dan menjadikan dirinya yang terbaik. Itulah karakter anak bangsa yang seharusnya tertanam pada generasi muda saat ini.
Namun, fenomena saat ini pendidikan kita dijajah dengan dunia barat yang meracuni karakter anak bangsa, tidak lagi memiliki jati diri, tidak lagi ambisius dalam mengejar cita-cita yang sebenarnya merupakan istana dan telaga untuk masa depannya sendiri. Jiwa nasionalisme mulai menurun dan berkeping-kepin berhamburan entah kemana, agama tidak lagi menjadi hal sacral dalam aktivitas hidupnya, semua sudah harcur lebur dan ditanami dengan pola piker ala barat. Beberapa ilmuan mengatakan bahwa Indonesia dijajah barat dengan 3F (Food, Fashion, and Fun). Food merupakan makan yang disajikan dan diolah berdasarkan aneka rasa kebarat-baratan yang semuanya serba instan alias siap saji, sekarang sudah menjamur dan dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia dibebagai penjuru (mayoritas). Fashion, berhubungan dengan masalah pakaian dan penampilan yang digunakan oleh generasi bangsa dengan pakaian yang serba terbuka alias seksi dll. Fun adalah hiburan. Dunia hiburan yang memanjakan anak muda Indonesia sudah tersedia dimana-mana, kalau dulu barang kali hanya di telivisi saja. Berbagai media melakukan penyiaran dan penayangan yang seraya menggiurkan kalangan remaja dan anak-anak untuk menikmatinya. Tempat-tempat hiburan berdiri diberbagai sudut kota, dan tidak banyak terjadi free sex dimana-mana. Itulah kondisi negeri kita saat ini.
Dengan tiga unsur tadi, tidak salah kalau generasi sekarang bermalas-malasan dan bersenang-senang dalam menjalankan hidupnya. “Enjoy coy” merupakan  kata yang sering terlontar dalam mulutnya. Cita-cita dan masa depan dibangun dengan serba instan, tidak mau melakukan hal-hal yang susah, keinginannya semuanya tidak butuh proses melainkan hasil yang diperoleh sengan mudah, efektif dan efisien. Buktinya saja dalam Ijasah dibeli, jawaban UNAS diobral, masuk perguruan tinggi dengan uang kesejahteran. Lantas dimanakah letak moral bangsa Indonesia kalau semunya sudah terinfeksi dengan kejahatan dunia barat dengan karakter buldingnya. Jati diri bangasa akan agama dengan kejujuran dan keadilannya tidak lagi nempel dalam urat nadi anak bangsa, melainkan merupakan symbol yang tak lain sebagai hiasan belaka. Aktivitas mencontek merupakan tradisi yang terstruktur dan tak henti-henti dilakukan, baik mulai dari tingkat SD s/d SMA dan bahkan lebih ironinya lagi melambat ke Perguruan Tinggi, itu merupakan hal bisa bagi mereka yang memang terbiasa walaupun sebenarnya adalah dosa dan merusak generasi bangsa. Mereka bangga dengan nilai yang didapatnya, IPK yang tinggi, tetapi tidak sadar kalau hal tersebut merupakan pekerjaan-pekerjaan orang yang merugi, tidak lain nilai merupakan objek jual beli. Dengan IPK 3,89 misalnya, namun dalam prakteknya sebenarnya IPKnya adalah 1,65. Memalukan dan secepatkan ditinggalkan…!
Fenomena lain yang terjadi dalam dunia pendidikan, sebagai contoh Perguruan Tinggi. Civitas akademika perguruan tinggi mulai memasuki politikisasi dalam artian system politik negri ini sudah diadopsi oleh beberapa dosen, karyawan dll dalam dunia kampus. Buktinya dengan adanya bantuan dari APBN yang seharusnya dipergunakan untuk kemaslahatan dan perekembangan kampus namun disisi lain dijadikan sebagai PAD (pendapatan Asli Dosen), Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang konon merupakan yang termahal dalam uang SPP dan DPP padahal mereka sudah mendapatkan dana APBN dari pemerintah. Lantas kemanakah nasib uang-uang rakyat tersebut. Ma’af saja Jajaran Rektorat salah satu perguruan tinggi negeri yang dijadikan tersangkah kasus korupsi akibat dari dana APBN dan proyek-proyek yang mereka lakukan. Kalau seperti ini benarkan guru sebagai teladan yang patut diguguh dan ditiru itu masih ada. Benarkah perguruan tinggi yang mendeklarasikan: agent of Change, agent of Control, agent of Transformation dan agent of Morality sudah dijalankan dan dilahirkan. Jangan-jangan semua itu hanya sebagai formalitas kelembangaan untuk menjaga image sebagai tinggat pendidikan tertinggi. Wallahu a’lam bissowab…!

0 komentar:

Posting Komentar