Rabu, 24 Juli 2013

Analisis Film Peradaban “10,000 BC”

Suku Yagahi adalah salah satu suku yang tinggal di lembar Gunung Besar, yang terletak di Pegunungan Putih. Mata pencahariannya adalah memburu hewan perkasa yaitu Mannak (Gajah Besar). Suku ini dilanda krisis kelaparan berkepanjangan, sehingga mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Walaupun bekerja keras kadangkala mereka belum juga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupan mereka gelisah akan kelaparan. Meskipun demikian, mereka tetap sabar menghadapi semua itu.

Mereka berusaha untuk meninggalkan kegelisahan yang menimpanya dan takut akan kehidupan keturunannya nanti merasakan nasib yang sama. Semua itu disebabkan oleh Mannak yang jarang datang (mencari makan) ke lembah suku Yagahi. Karena mereka hanya memiliki satu pekerjaan, memburu mannak. Ketika Mannak tidak ada, begitulah keadaan suku tersebut.

Pegunungan putih adalah tempat mereka memburuh sehari-hari. Diberi nama pegunungan putih, karena warna gunung tersebut putih diliputi oleh salju. Ditempat tersebut berdiam seorang Ibu tua; seorang peramal yang dianggap berperan penting dalam kehidupan mereka, ia dapat memprediksi apa yang akan terjadi di hari kemudian. Disamping itu, dapat berbicara dengan roh bumi untuk meminta kebijakan seorang moyang lelaki untuk menyelamatkan suku Yagahi. Mereka percaya akan ramalan yang diutarakan, Ibu tersebut menjadi sesepuh mereka. Suatu ketika dalam sebuah pertemuan si Ibu tua itu mengatakan bahwa dari sukunya akan ada seorang pemimpin yang bijaksana dan bisa membawa mereka kearah kemakmuran, tidak lagi dilanda kelaparan dan menyelamatkan mereka dari tipu daya setan berkaki empat. Namanya adalah Euolet (si harapan kehidupan); seorang seorang gadis bermata biru, pemberani, cerdas dan tangkas. Ia merupakan keturunan suku Yagahi sendiri. Orang tuanya meninggalkannya sejak masih kecil, ia hidup dalam dunia yatim piatu. Sehinggga suku mereka selalu berusaha untuk melindungi gadis tersebut dari penjahat, setan berkaki empat, demi keselamatan sukunya yang diramalkan oleh si Ibu tua.

Krisis yang melandanya sejak dahulu belum juga teratasi, maka salah seorang diantara mereka berkesimpulan untuk meninggalkan sukunya. Merasa ramalan yang dilontarkan Ibu tua itu akan tidak akan terjadinya. Selain itu dia tidak juga sabar melihat kehancuran melanda suku Yagahi saat itu. ia menitipkan anaknya yang bernama D’leh pada sahabat dekatnya. D’leh tidak lagi bersama ayahnya begitupun ibunya. Sehingga nasibnya benar-benar menyedihkan. Hubungannya dengan teman-temannya juga kurang selaras, sering terjadi pertengkaran. Temannya menganggap dia sebagai pengecut, sebagaimana ayahnya. D’leh selalu dipojokkan dan dikucilkan. Akan tetapi, sahabat ayahnya selalu membelanya dari pertengkaran dengan temannya (Ka’ren).

Di pagi yang cerah D’leh duduk termenung, tangannya hanya beberapa kerikil kecil dilemparkan kearah depannya. Seakan ia tidak memiliki semangat hidup. Tidak lama kemudian dengan senyuman manisnya Euolet menghampirinya. Mereka berdua saling berbagi sedih kesah yang mereka berdua hadapi saat itu. Mereka sama-sama seorang yatim piatu; D’leh ditinggal orang tuanya (ayahnya) dari suku Yagahi, sedang Euolet ditinggal orang tuanya karena dibunuh oleh setan berkaki empat. Setelah beberapa tahun lamanya persahabatan yang dijalinkan akhirnya melahirkan sebuah cinta dan kasih sayang. Dengan itu mereka lebih dekat lagi. Teman-temannya tidak lagi mengucilkan, dan memujokkannya.

Beriringan dengan berjalannya waktu, bulan, dan tahun, maka datang bagi mereka masa pemburuhan terakhir. Dimana pada saat itu datang seorang pemburu besar yang bernama Tic Tic pada Ibu tua suku Yagahi. Dengan kedatangannya si Ibu tua berpesan bahwa kalau kali ini si pemburu besar tidak memboleh memburu Mannak. Mengapa? Karena dia merasa Ka’ren akan memenangakan tombak putih dan bisa mendapatkan Euolet. Tanpa terasa Eouletpun menemuhi D’leh, teman dan kekasih hatinya, yang sedang berjaga-jaga dengan temat-temannya untuk mengajaknya meninggalkan suku Yagahi. Akan tetapi D’leh tidak menyetujuinya. Ia tidak mau mengikuti jejak ayahnya sebagai si pengecut, karena meninggalkan sukunya.

Beberapa hari setelah itu, ankhirnya ia rebutan dengan Ka’ren dalam membunuh Mannak jantan, yang memiliki kekuatan luar biasa untuk mendapatkan tombak putih dan gadis cantik, Euolet. Dengan perjuangan dan kerja kerasnya ia bisa melumpuhkan seekor Mamak yang luar biasa kekuatannya dan akhirnya mendapatkan tombak putih dan Euolet yang diinginkannya. Maka, dengan itu suku Yagahi percaya dengan penuh ketulusan kalau D’leh bukan sebagai pengecut seperti ayahnya. Dengan itu Euolet merasa bahagia atas semua yang telah dilakukan oleh D’leh dan pengakuan suku Yagahi terhadap D’leh.

Keadaan suku Yagahi semakin memprihatinkan, semua salju berturunan, menandakan bahwa setan berkaki empat telah ada disekitar mereka untuk membantai dan menghancurkan mereka semua. Oleh karena itu, mereka semuanya bersembunyi termasuk Euolet. Sedangkan Ka’ren, D’leh dan Tic-Tic mengintai dan kemudian mengejar setan berkaki empat untuk mengembalikan beberapa suku mereka yang dibawahnya.

Beberapa hari kemudian setan berkaki empat mengetahui persembunyian Euolet melalui kalung biru yang diberikan oleh D’leh. Mereka menemukannya di hutan belantara. Dan kebetulan tidak lama kemudian teman-teman Euolet datang untuk melawan setan berkaki empat. Dengan berbagai upaya dilakukan akhirnya mereka bisa merebut Euolet dari tangan setang berkaki empat. Akan tetapi, setelah sampai di perjalanan mereka diintai oleh burung unta yang ingin merebut Euolet dapat dikalahkan.

Setan berkaki empat memang kuat, sehingga selang beberapa bulan kemudian mereka berhasil menangkap Euolet. Dengan ditanggkapnya Euolet suku Yagahi mulai resah dan meminta bantuan kepada suku-suku yang ada di sekitarnya, seperti suku Tutt tutt; suku yang dapat bergerak dengan cepat dengan menggunakan topeng seperti pepohonan, suku Kula; suku yang bertubuh pendek seperti anak-anak dan suku Hoda dari lembah multi dengan kepalah berdarah. Walaupun demikian, setan berkaki empat tetap tidah mudah dikalahkan begitu saja, melainkan harus ada strategi khusus yang harus dibuat. Berkat pemikiran beberapa suku akhirnya setan berkaki empat dapat dilkalahkan dan akhirnya orang-orang yang diculik dari suku mereka dapat dipulangkan kembali. Akhirnya Euolet dan D’leh dapat melanjutkan hubungan cinta dan kasih sayangnya.



Adapun bentuk peradaban yang ada pada film tersebut adalah
  1. Suku Yagahi percaya terhadap ramalan-ramalan.
  2. Keadaan suku Yagahi yang kelaparan akibat Mannakyang jarang datang (mencari makan) di lembah suku Yagahi.

0 komentar:

Posting Komentar